
DENPASAR – Keceriaan mewarnai Lantai Bawah Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Jumat (6/2/2026). Puluhan anak PAUD dan TK tampak antusias mengikuti Wimbakara (Lomba) Mewarnai dalam rangka Bulan Bahasa Bali VIII, menghadirkan suasana meriah sekaligus edukatif.
Dengan wajah serius namun penuh semangat, para peserta kecil menata alat warna di atas meja lipat yang telah disiapkan rapi. Pensil warna, kuas, hingga saputangan tersusun teratur—menjadi penanda kesiapan mereka mengikuti lomba, baik secara mental maupun fisik. Sementara itu, orang tua hanya memberi dukungan dari luar arena lomba.
Dewan juri, I Putu Arya Janottama, S.Sn., M.Sn. dan Gede Agus Prayoga, S.Ds., menilai anak-anak menunjukkan tingkat disiplin yang baik meski masih berusia sangat belia. Menurut Arya Janottama, sebagian besar peserta telah mempersiapkan diri sejak awal, dengan dukungan penuh dari orang tua.
“Untuk usia PAUD dan TK, hasil karya mereka sudah tergolong baik. Yang paling menonjol justru kedisiplinan dan ketenangan saat mengikuti lomba,” ujarnya.
Ia menegaskan, lomba mewarnai menjadi media efektif menanamkan spirit Bulan Bahasa Bali sejak dini. Tahun ini, tema “Atma Kerthi” diangkat sebagai upaya membangun semangat jiwa dan memuliakan roh serta nilai-nilai leluhur Bali.
“Anak-anak tidak menggambar atma secara literal, tetapi membangkitkan spirit kecintaan pada budaya. Warna-warna yang mereka pilih membentuk karakter—oranye dan kuning melambangkan semangat, biru sebagai harapan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Arya Janottama menyebutkan bahwa tujuan utama lomba pada jenjang ini bukanlah kompetisi semata, melainkan latihan kedisiplinan dan tanggung jawab menyelesaikan karya tepat waktu.
“Sesungguhnya, lomba ini adalah pertarungan anak dengan kedisiplinannya sendiri, bukan semata-mata soal menang atau kalah,” tegasnya.
Di tengah derasnya arus teknologi dan penggunaan gawai pada anak-anak, kegiatan mewarnai dinilai penting untuk melatih ketangkasan, ketelitian, serta kemampuan memilih dan memadukan warna. Hal tersebut diharapkan menjadi bekal awal bagi perkembangan kreativitas anak di masa depan.
“Dari aktivitas sederhana seperti ini, anak-anak belajar fokus, sabar, dan mencintai budayanya,” pungkasnya. (sur)








