
GIANYAR – Bupati Gianyar I Made Mahayastra mengajak masyarakat menjadikan musibah banjir yang melanda sejumlah desa di Gianyar sebagai momentum memperkuat kesadaran diri dalam menaati aturan tata ruang dan menjaga lingkungan.
Pesan itu disampaikannya saat menyerahkan bantuan kepada warga terdampak bencana, Sabtu (27/9). Penyerahan bantuan dilakukan secara langsung kepada warga yang mengalami kerugian akibat banjir. Salah satunya, Dewa Nyoman Sidan asal Banjar Sasih, Desa Batubulan, menerima paket sembako.
Selain itu, Nyoman Pariana asal Banjar Peteluan, Desa Temesi, mendapat bantuan bedah rumah sebesar Rp60 juta.
“Semoga bantuan ini bisa meringankan beban masyarakat dan menjadi bukti nyata kepedulian Pemerintah Kabupaten Gianyar,” kata Bupati Mahayastra.
Menurut data, bencana banjir kali ini melanda lima desa, yaitu Batubulan Kangin, Batuan, Celuk, Ketewel, dan Batubulan. Pemerintah Kabupaten Gianyar mencatat terdapat 428 titik bencana yang tersebar di wilayahnya.
Kerusakan yang ditimbulkan cukup besar, mulai dari infrastruktur jalan, jembatan, hingga rumah warga. Bupati Mahayastra menyampaikan rasa prihatinnya atas musibah ini. Ia menegaskan banjir bukan sekadar bencana alam, tetapi juga peringatan agar semua pihak lebih peduli menjaga sungai, ruang terbuka hijau, dan lingkungan sekitar.
“Tuhan sudah mengingatkan kita untuk menjaga sungai, menjaga lingkungan, serta mengubah perilaku terkait sampah,” ujarnya.
Untuk membangkitkan semangat masyarakat, Pemerintah Kabupaten Gianyar juga menyalurkan 318 paket sembako yang akan didistribusikan melalui kepala desa kepada warga terdampak.
Langkah ini diharapkan tidak hanya meringankan beban sementara, tetapi juga menumbuhkan rasa kebersamaan dalam menghadapi masa sulit.
Bupati Mahayastra menekankan pentingnya menjadikan bencana ini sebagai pelajaran berharga. Menurutnya, aturan tata ruang harus dihormati dan dijalankan dengan baik.
“Jika sempadan sungai, tetaplah menjadi sempadan sungai. Jika jalur hijau, maka harus kita jaga. Pemerintah dan masyarakat sama-sama memiliki tanggung jawab untuk melestarikan lingkungan,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Bupati Mahayastra juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat serta seluruh pihak yang sudah bahu-membahu dalam penanganan bencana.
“Terima kasih kepada masyarakat yang sudah bergotong royong, serta semua pihak yang terlibat dalam penanganan cepat dan pemulihan pasca bencana ini,” pungkasnya.
Peringatan dari Bupati Gianyar ini seakan menjadi refleksi bersama. Menjaga lingkungan bukan hanya urusan pemerintah, melainkan kewajiban kolektif agar bencana serupa tidak terulang di masa depan.
Musibah kali ini diharapkan menjadi momentum lahirnya kesadaran baru, taat aturan tata ruang, peduli lingkungan, dan bergotong royong demi masa depan Gianyar yang lebih aman, sehat, dan berkelanjutan. (yan)








