
GIANYAR – Warga Desa Adat Peliatan, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar bersiap menyongsong pelaksanaan pitra yadnya berupa Ngaben Kinembulan atau pengabenan masal yang puncaknya akan dilaksanakan pada 13 Agustus 2025.
Dua banjar adat dibawah naungan Desa Adat Peliatan yang akan melaksanakan upacara ngaben kinembulan yakni, Banjar Teges Kawan dan Banjar Teges Yangloni, dengan 18 sawe. Sejak awal rangkaian pelaksanaan Ngaben Kinembulan ini sudah mengedepankan semangat kebersamaan.
Ngaben massal di Desa Adat Peliatan bukan hanya kegiatan ritual membakar sawa atau tulang (badan kasar), tetapi simbol penyatuan berbagai klen atau kelompok soroh di tengah Masyarakat majemuk guna mewujudkan tujuan suci, menyucikan roh leluhur.
Penyatuan dan kebersamaan ini diwujudkan dalam penggunaan sarana berupa Petulangan Sidi Kara Jati. Sidi Kara Jati, secara estetika merupakan sebuah karya seni luar biasa. Sidi Kara Jati lahir dari sentuhan tangan terampil dengan nafas seni dalam wujud perpaduan gajah mina, singa, lembu dan naga terangkai dalam satu kesatuan.
Wujud Sidi Kara Jati juga sarat akan filosofi, merupakan cermin prinsip-prinsip kerja sama, di mana gotong royong, toleransi, dan koordinasi menjadi bagian dari laku spiritual, bukan sekadar teknis.
Nilai-nilai Sidi Kara Jati menekankan etika dalam bertindak, bekerja dengan tulus tanpa pamrih, penuh tanggung jawab, dan dilandasi niat suci. Dalam ngaben, hal ini terlihat dari kesadaran kolektif warga desa untuk tidak membedakan status sosial, klan, atau ekonomi dalam pelaksanaan upacara.
“Petulangan ini adalah perwujudan dari kebersatuan krama kami di dua banjar yakni Banjar Teges Kawan dan Teges Yangloni dalam melaksanakan Pitra Yadnya. Kami sebut Sidi Kara Jati sebagai ungkapan krama kami yang mesikian atau bersatu secara tulus dalam melaksanakan pitra yadnya,” ungkap Kelian Tegas Kawan, I Wayan Mudalara bersama Kelian Teges Yangloni, I Made Sandiyasa Astawa, Kamis (7/8/2025).
Para tokoh adat setempat menilai ngaben massal dengan semangat Sidi Kara Jati menjadi contoh implementasi ajaran dharma dalam kehidupan adat, mengutamakan harmoni, pelayanan kepada leluhur, dan keluhuran budaya.
Dari penyatuan dan semangat kebersamaan itu, banyak hal yang dapat disederhanakan mulai dari sisi biaya hingga efisiensi waktu.
Bendesa Adat Peliatan, Cokorda Putra Wisnu Wardana saat menyerahkan punia, sangat mengapresiasi kebersatuan kramanya. Menurutnya secara teknis pelaksanaan upacara Pitra Yadnya dari tahun ke tahun selalu disempurnakan tanpa mengurangi makna dan esensi.
Cokorda Putra Wisnu Wardana menegaskan, khususnya di Teges Kawan dan Teges Yangloni dengan semangat kebersamaan, di tengah kemajemukan dengan berbagai soroh, praktek laku budaya ini sangat relevan dijadikan contoh bagi desa adat lain di Bali.
” Intinya dalam yadnya ini adalah rasa dan ketulusan krama kami yang meskian (kebersamaan). Kami harap kedepannya, budaya pelaksanaan ngaben seperti ini terus dirawat dan ditingkatkan,” demikian Cokorda Putra Wisnu Wardana. (yan)








