
BULELENG – Kepedulian warga terhadap asset desa berupa Kolam Mumbul Anturan, tak hanya mulai terlihat tapi langsung diwujudkan dalam aksi gotong royong.
Selain membersihkan areal kolam airnya berasal dari mata air alami, warga yang dikoordinir Ketut Sumiarta juga mendesak Bendesa Adat Anturan Jro Mangku Ketut Sudarnaya untuk mengoperasikan kembali asset yang selama ini menjadi sumber pendapatan desa adat.
“Sudah setahun lebih terbengkalai, selaku generasi muda Desa Anturan kami sangat perihatin dan tergerak untuk membersihkan asset desa yang terpendam ini agar bisa diberdayakan kembali,” ungkap Sumiarta yang akrab disapa Mancrut disela-sela aksi pembersihan areal kolam yang dipenuhi lumut dan kotoran lainnya, Jumat (18/4/2025).
Dengan pengalaman usaha di Mengwi Badung, Mancrut mengaku termotivasi membersihkan asset yang dinilainya sebagai berlian terpendam sehingga bisa memancarkan sinarnya kembali untuk meningkatkan pendapatan desa adat yang terpuruk paska ‘LPD Anturangate’.
“Ini ibarat sebuah galian walau ada lumpur tapi akan menghasilkan berlian jika betul-betul kita kelola, apalagi Anturan ini merupakan kawasan wisata dekat dengan kawasan dolpin Lovina. Kalau kita biarkan, tidak akan ada melirik apalagi berinvestasi,” ujarnya.
Setelah dibersihkan, Mancrut berencana akan mendesak desa adat agar bersinergi dengan dinas atau pihak terkait untuk mengelola asset desa adat agar bisa dimanfaatkan bagi krama dan diwariskan kepada anak curu serta generasi mendatang.
“Kita bersihkan saja dulu agar bisa dilirik pengunjung atau wisatawan. Nanti desa bagaimana baiknya agar bisa dikelola,” tandasnya.
Mancrut juga berharap kepada warga Desa Anturan agar peduli dan bersama-sama menjaga asset desa sehingga dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteran.
“Kepada warga Anturan, ayo ikut menjaga asset desa ini, ikuti aturan karena jika betul-betul dikelola dengan bagus oleh desa untuk mendapatkan income, maka ketika desa melaksanakan upacara adat, biayanya bisa dari sana seperti pengelolaan Kolam Air Sanih dan Air Panas Banjar. Tapi kalau ini dibiarkan, akan menjadi kenangan buruk bagi kita semua,” tandas Mancrut diapresiasi Sudarnaya.
Selaku Bendesa Adat Anturan periode 2025-2030, Jro Mangku Ketut Sudarnaya mengepresiasi aksi gotong royong yang dilakukan warganya sebagai ‘spririt nindihin desa’ (semangat membangun/membela desa) yang patut didukung dan diikuti seluruh warga Desa Anturan.
Bendesa Adat Sudarnaya mengaku bangga sekaligus terenyuh melihat semangat warganya, dengan suka cita, suka rela, bergotong royong membersihkan asset desa berupa Kolam Mumbul yang selama ini terbengkalai.
“Itu kehendak masyarakat sendiri, awalnya kami hanya diberitahukan kalau akan ada kelompok warga yang ingin bersih-bersih tanpa di bayar,” ungkapnya.
Terkait pengelolaan asset setelah dibersihkan, Sudarnaya menyatakan sangat mendukung, namun harus dibicarakan terlebih dahulu bersama krama melalui paruman.
“Nanti kita akan gelar paruman dulu untuk membicarakan pengelolaan Mumbul kedepan, karena memang kondisi keuangan desa adat saat ini nol sekali sejak diserahkan. Kalau ada pihak ke tiga misalnya siap mengelola, nah itu yang harus kita sampaikan ke warga adat biar tidak salah,” pungkasnya. (kar/jon)








