
DENPASAR – Seniman sekaligus akademisi I Nyoman Kariasa resmi menyandang gelar doktor di bidang ilmu Penciptaan Seni Program Doktor Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Kariasa yang akrab disapa Nyoman Kader meraih doktor berkat kearifan lokal yang dimiliki Desa Pinda, Sukawati Gianyar. Dimana Desa Pinda adalah legendaris gong Kebyar yang mengharumkan Bali di bidang seni karawitan beberapa dekade.
Dalam Hasil Penelitian Disertasi Tahap II (terbuka), yang digelar di Kampus ISI Denpasar, Senin (10/2/2025), I Nyoman Kariasa dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan. Tim penguji berjumlah 8 orang diketuai Rektor ISI Denpasar Prof. Dr, I Wayan Kun Adnyana menyatakan I Nyoman Kariasa resmi menyandang gelar doktor bidang penciptaan seni.
Nyoman Kader melakukan penelitian tradisi yang dikenal dengan istilah Ritus Mejaga-jaga, yang diangkat kembali dan dituangkan dalam karya berjudul “Nuwur Geni Kahuripan Ang-Ah”. Karya ini merupakan sebuah penciptaan seni karawitan ekologis berbasis kearifan lokal Desa Pinda Gianyar. Dimana pada tahun 1990-an di Desa Pinda Gianyar pernah berlangsung tradisi siat api Jelang Perayaan Nyepi. Namun, tradisi itu memudar, padahal memiliki pesan dan sarat makna bagi masyarakat Desa Pinda.
“Proses penciptaan ini dilakukan dengan pendekatan interdisipliner (estetika, religi, ekonomi, sosial, budaya), melalui beberapa tahapan antara lain: riset lapangan untuk memahami dan merekonstruksi Ritus Mejaga-jaga yang telah lama terlupakan, menyusun rancang bangun model pertunjukan, melakukan implementasi model, uji coba model, dan diseminasi karya,” ungkap Kader yang juga Dosen ISI Denpasar itu.
Kader merasa bersyukur dalam pencapaian ke titik ini menjadi pengalaman yang luar biasa. “Rasa bersyukur dalam ujian S3 ini saya jalani dengan lancar. Terimakasih kepada Rektor ISI bersama tim penguji, kalau melihat proses dari awal, mulai dari kampus, menentukan ide kemudian setiap penggarapan karya selalu mendapat pendampingan dari berbagai pihak. Terimakasih manggala Desa Adat Pinda, masyarakat Pinda telah memberikan keleluasaan menggunakan peralatan, serta seluruh dukungan masyarakat Pinda yang luar biasa mensuport karya saya hingga meraih gelar Doktor ini,” ucap Kader.
Ia menambahkan, dari karya ini justru mendapat respon baik dari kalangan sekaa teruna teruni di Desa Adat Pinda yang membuat ogoh-ogoh dan siat api. “Jadi tradisi mejaga-jaga Kembali dilestarikan dalam menyambut Nyepi Tahun ini, kreativitas anak-anak kami di Pinda patut diapresiasi oleh seluruh masyarakat Bali, bagaimana kita bisa melestarikan nilai-nilai kearifan lokal dan nilai budaya untuk tetap lestari di tengah gempuran budaya luar,” tandasnya.
Sementara itu, Rektor ISI Denpasar sekaligus Ketua Tim Penguji Prof. I Wayan Kun Adnyana mengapresiasi Dr. I Nyoman Kariasa menjadi doktor ke-39 di Kampus ISI Denpasar. Prof. Kun Adnyana menyatakan karya cipta Dr. Kader Kariasa ini menarik untuk diketahui karena mampu menggerakan gagasan yang berangkat dari kearifan lokal di Desa Pinda.
“Kader Kariasan menjadi Doktor penciptaan, jadi doktor penciptaan itu dilihat dari dua aspek, dari karya disertasi dan karya ciptanya, nah Dr. Nyoman Kariasa ini karya ciptanya melibatkan seniman -seniman di desa Pinda, karena memang haluan akademik untuk mahasiswa doktor, terutama terkait penciptaan memang berbasis masyarakat, jadi orientasinya bagaimana pendidikan itu atau studi berdampak pada masyarakat, dan karyanya betul- betul menarik dan dipakai oleh masyarakat,” tandasnya.
Untuk diketahui dalam penelitian yang dilakukan Dr. Nyoman Kader, dalam karya seni ekologis ini memiliki pesan pemberdayaan dan pelestarian, serta memiliki makna estetika baru, makna sosial, makna ekonomi, dan makna identitas wisata Desa Pinda, Gianyar Bali. Ia mengklaim, dalam penciptaan ini menghasilkan novelty/temuan baru bernama “Getek Solah”, yang didalamnya mencakup konsep penciptaan baru, metode penciptaan baru, teknik penyajian baru dalam seni karawitan Bali. (sur)








