
BADUNG – Pesisir pantai barat Kabupaten Badung, mulai dari Kelan hingga Canggu, masih menjadi primadona penyu bertelur. Terhitung dari awal bulan Maret 2024 lalu, lebih dari 10 ribu telur penyu berhasil dievakuasi.
Founder Kuta Beach Sea Turtle Conservation (KBSTC), I Gusti Ngurah Tresna menuturkan, ribuan telur penyu tersebut dievakuasi dari 117 sarang. Telur-telur itu kemudian ditetaskan dan dilepasliarkan kembali ke laut.
“Penyu secara alami mereka pakai naluri datang naik ke tepi pantai untuk menaruh telurnya dikala musim kemarau. Prosesnya, sebelum dia bertelur, tidak boleh diganggu, tidak boleh ada lampu, dan tidak boleh dipegang. Setelah bertelur, dia urug kembali sarangnya agar betul-betul aman. Setelah itu kembali ke habitatnya ke laut,” beber Ajik Tresna atau yang akrab disapa Mr Turtle.
Dari sarang-sarang itulah telur-telur penyu kemudian dievakuasi dan dibawa ke lokasi penetasan. Setelah penetasan yang butuh waktu sekitar 40 – 60 hari, anak-anak penyu alias tukik tersebut segera dilepasliarkan.
“Lebih cepat kita kembalikan ke alamnya, itu lebih bagus untuk proses kehidupan alaminya. Walaupun dari riset dunia, kemungkinan hidup sangat kecil, yakni dari 1000 hanya 1 yang bisa sampai dewasa,” ucapnya.
Dari data yang dimiliki, pada tahun 2023, total telah terevakuasi sebanyak 70.000 telur penyu. Sementara untuk di tahun 2024 ini, jika dirata-ratakan satu sarang 100 telur, maka sejak Maret 2024 terevakuasi sebanyak 11.700 telur.
23 tahun melakukan aksi penyelamatan kelestarian penyu, Tresna mengaku sangat bersyukur. Karena hingga saat ini pantai-pantai di Badung masih menjadi lokasi yang disenangi oleh penyu untuk bertelur. Di samping itu, masyarakat juga sudah semakin paham pentingnya menjaga kelestarian penyu. “Masyarakat yang dahulu boleh mengambil telur penyu. Tapi kini mereka mulai memahami, karena satwa ini dilindungi,” pungkasnya. (adi)








