
Area sekitar Tsunami Shelter Pantai Kuta yang menjadi lokasi Water Vaganza rangkaian dari World Water Forum ke-10.
BADUNG – Menjadi bagian dari rangkaian World Water Forum (WWF) ke-10 melalui kegiatan Water Vaganza, merupakan pengalaman yang membanggakan bagi Kuta. Karena itu sekaligus dipandang sebagai ajang promosi terhadap Pantai Kuta, apalagi lokasinya tidak jauh dari Pasar Seni Desa Adat Kuta yang pada saat ini telah menunjukkan tampilan baru pasca penataan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Badung.
“Animo masyarakat menyambut rangkaian WWF di Pantai Kuta sangat luar biasa. Gelarannya, sekaligus menunjukkan kematangan kita dalam membantu penyelenggaraan kegiatan internasional tersebut,” sebut Bendesa Adat Kuta, I Komang Alit Ardana, Selasa (28/5/2024) lalu.
Satu hal yang ditonjolkan Kuta ketika itu, adalah berkenaan dengan pementasan seni. Yang mana ada 8 sanggar yang dilibatkan dan mendapatkan panggung pada pagelarannya. “Ini sekaligus menegaskan bahwa yang namanya seni, itu masih eksis di Kuta,” ungkapnya.
Ke depan, sanggar-sanggar seni tersebut katanya akan dijadwalkan tampil secara regular di Panggung Majelangu, Pantai Kuta. Itu di luar harapan pelibatan ketika ada gelaran event lain yang meminjam lokasi di Pantai Kuta.
Di samping sanggar seni, 16 pelaku UMKM di Kuta kabarnya juga ikut diberi kesempatan. Selain menunjukkan diri, mereka sekaligus dapat mengais rejeki dalam kegiatan bertajuk Water Vaganza itu. “Satu stand itu sampai ada yang dapat minimal Rp1,5 juta/hari. Artinya, pameran rangkaian WWF itu sekaligus memberi peluang yang baik bagi para pelaku UMKM di Kuta. Jadi ke depan, jika ada lagi event-event seperti WWF di Bali, kami harap Kuta bisa kembali dilibatkan,” harapnya.
Water Vaganza di Pantai Kuta, diakui dia, tentu turut memberikan andil bagi pengenalan Pasar Seni Desa Adat Kuta. Karena pameran tersebut dilaksanakan, notabene tidak jauh dari lokasi Pasar Seni, atau tepatnya di sekitar Tsunami Shelter Pantai Kuta. “Sekarang ini, para wisatawan sudah mulai mengenal bahwa gedung tersebut adalah Pasar Seni. Tidak seperti sebelumnya, yang masih ada mengira bahwa itu adalah hotel. Meski demikian, promosi dan pemasaran masih senantiasa kita galakkan,” pungkasnya. (adi)








