
DENPASAR – Tiga Dosen Universitas Mahasaraswati melaksanakan program pengabdian masyarakat salah satu pemenang dari Universitas Mahasaraswati Denpasar pada pendanaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Perguruan tinggi (Kemendikbud Ristekdikti) tahun 2023 yang hanya berjumlah 897 hibah dari 4004 kampus-kampus di Indonesia.
Program pengabdian masyarakat berjudul “Peran Subak dalam Menunjang Urban Farming (Pertanian Lahan Sempit di Perkotaan) melalui Edutourism (Edukasi Pertanian).
Pelaksanaannya memilih Kawasan Wisata Edukasi Subak Majalangu, Desa Budaya Kertalangu, Denpasar Timur, Kota Denpasar. Lokasi ini dipilih sebagai objek penelitian lantaran masuk sebagai destinasi wisata subak yang dikelola dengan baik di Kota Denpasar.
Tiga dosen Mahaswarasti tersebut adalah Luh Putu Kirana Pratiwi,S.P, M.Agb, Dr.drh. Nyoman Yudiarini, S.KH, M.Agb ( Fak. Pertanian) dan Ni Nyoman Ayu Suryandari, SE, M.Si, (Fak. Ekonomi)
Luh Putu Kirana Pratiwi mengungkapkan, program penelitian ini hasil kolaborasi Universitas Mahasaraswati Denpasar dengan melibatkan dosen Ekonomi dan Pertanian, melakukan pengabdian memanfaatkan lahan sempit di Perkotaan atau di Bali dikenal dengan sebutan Teba.
“Kita mendapatkan dana Rp42 juta, untuk bikin rumah kompos, instalasi pupuk cair dan bibit seperti menanam sayur- sayuran, jadi program ini tidak sekadar teori dan sekadar praktek, jadi mumpung kawasan Subak Kertalangu adalah destinasi wisata, kita pilih tempat ini dikelola dengan management dan melibatkan para petani subak secara langsung,” kata Kirana disela FGD di Subak Tebe Majalangu, Kawasan Kertalangu, Kesiman, Jumat (18/8/2023).
Dijelaskan, program berlangsung Agustus hingga Desember 2023 dengan pengelolaan sampah berbasis zerowaste (sampah nol) dan memiliki benefit ekonomi (mengurangi biaya pupuk dengan memanfaatkan sampah dapur/limbah rumah tangga) untuk pangan keluarga.
“Pupuk yang dihasilkan bisa dimanfaatkan selain dijual juga digunakan menanam sayur-sayuran sehingga bisa dijual sebagai atraksi wisata dalam program edukasi pertanian (Edufarm),” ungkapnya.
Menurutnya kendala masyarakat yang diamati, mereka tahu permasalahan sampah namun belum sadar, dimana keberadaan teba, bisa dimanfaatkan dengan efektif semisal mendaur sampah organik (dapur) menggunakan tong pipa.
Kirana menambahkan, dipilihnya Subak Padanggalak, Desa Kesiman Kertalangu merupakan salah satu subak di Kota Denpasar yang ditargetkan dalam pengembangan DTW melalui pengembangan wisata edukasi.
Hal ini untuk mendukung keberlanjutan pertanian subak di perkotaan. “Dalam mendukung upaya tersebut perlu dikembangkan program pengembangan pertanian berbasis organik (pertanian sehat) sebagai wisata edukasi. Masalah persampahan juga perlu dilakukan pengelolaan terpadu berbasis zerowaste untuk mampu menghasilkan produk pertanian, efisiensi biaya produksi, dan ramah lingkungan,” bebernya.
Berdasarkan hasil survey awal dengan Kelian Subak Padanggalak Desa Kesiman Kertalangu, adapun permasalahan yang dihadapi kelompok mitra antara lain belum adanya pengelolaan sampah atau limbah pertanian, kemudian belum melakukan urban farming sayuran berbasis organik sehat dan belum melakukan pengelolaan paket edutorism secara optimal.
“Tujuan kegiatan PBM berfokus pada bidang Green Economy dalam mengimplementasikan program edutourism dalam pengembangan urban farming berbasis organik (pertanian sehat) subak perkotaan,” tandasnya.
Kirana menjabarkan kegiatannya mulai Pengelolaan limbah pertanian menjadi produk pupuk kompos, pupuk organik cair, dan biopestisida. Pembuatan demplot tebe modern untuk penampungan limbah pertanian, melakukan pendampingan dalam aplikasi penggunaan pupuk kompos, pupuk organik cair dan biopestisida.
Pendampingan dalam optimalisasi bioflok lele dengan sayuran berbasis organik. Pendampingan manajemen usaha: akuntansi dan pemasaran, pembuatan cinderamata (oleh-oleh) paket urban farming rumahan. “Selanjutnya, dalam program keterlibatan petani Agar bisa menuai hasil,” pungkasnya.
Made Semara selaku Manajer Teba Majelangu menuturkan, luas kawasan Teba Majalangu dikelola 80 hektar, dibuka dengan Desa budaya kertalangu.
“Kawasan subak Teba Majalangu merupakan konsep belajar bagi SD, PAUD mendukung program merdeka belajar. Kita berikan pembelajaran alam di lokasi, agar anak-anak bisa berinteraksi dengan hewan tanaman dan sebagainya,” kata Semara.
Ia menambahkan, konsep edukasi yang diberikan adalah pengenalan subak sebagai sistem tata kelola air. Subak merupakan tata kelola air yang dikoordinir oleh pekaseh. “Selain menjadi wisata alam, memang ada keterlibatan masyarakat, petani, pekaseh yang dijadikan pemandu,” pungkasnya. (sur,dha)








