
GIANYAR – Kemacetan di sejumlah ruas jalan memasuki Ubud sangat menghawatirkan. Seperti di simpang Pengosekan menuju simpang Nyuh Kuning. Hampir setiap hari, setiap saat dua persimpangan ini selalu dijejali kendaraan. Dominan kendaraan roda 4 yang mengantar turis. Kondisi itu juga mempengaruhi simpang yang lainya. Seperti simpang Teges.
Kondisi ini mendapat sorotan dari anggota DPRD Kabupaten Gianyar, Fraksi Golkar I Wayan Gede Sudarta. Sudarta mengatakan, aspirasi dari masyarakat meminta jalan itu dijadikan satu arah. Mengingat menuju suatu tempat yang meski jaraknya dekat saja, bisa butuh waktu 30 menit gara-gara macet. “Sudah menjadi masalah klasik. Pemerintah harus punya solusi jangka pendek,” ungkapnya, Rabu (15/3/2023).
Padahal sepanjang jalan tersebut tidak ada kendaraan parkir. Menurutnya perlu dilakukan rekayasa arus lalu lintas. Pihaknya berharap ada jam buka tutup, terutama saat jam-jam orang kerja dan turis keluar untuk berwisata. “Bila perlu dibuat untuk satu arah saja. Pemerintah pasti punya teknisnya, agar macet bisa diurai,” tegasnya.
Masalah macet ini, menurutnya perlu diatensi segera. Sebab Ubud sedang booming sebagai destinasi wisata favorit. Keberadaan petugas yang mengatur arus lalin diakui cukup efektif. Namun petugas juga manusia, yang bisa lelah jika harus berdiri lama di tengah jalan. “Apalagi dalam cuaca panas terik,” jelasnya.
Kelelahan petugas ini dibenarkan pula oleh Plt Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Gianyar I Wayan Suamba. “Sejak pagi anggota bersama Polri di TKP. Tapi begitu siang, ijin menepi karena panas menyengat dengan catatan tetap diatensi,” jelasnya.
Dijelaskannya Suamba, macetnya Ubud sebagai satu pertanda menggeliatnya pariwisata pasca pandemi. Volume kendaraan yang keluar masuk Ubud relatif padat setiap hari. Terkait usulan rekayasa lalin, diantaranya menjadikan dua persimpangan tersebut satu arah menurut Suamba akan dikaji terlebih dahulu. “Prihal usulan, kami kaji terlebih dahulu,” tandas Suamba. (jay)








