
BULELENG – Gubernur Bali I Wayan Koster secara spesial menghadiri peringatan HUT ke-17 Pasraman Pinandita Brahma Vidya Samgraha di Lingkungan Penarungan Kelurahan Penarukan Kecamatan Buleleng.
Selain menyerahkan bantuan dan menjanjikan hibah peningkatan sarana prasarana serta kapasitas pendidikan pasraman, pada acara yang dihadiri sejumlah tokoh yang turut membesarkan pasraman seperti Wayan Gredeg, Made Agus Mahayastra, Nyoman Sutjidra, Gede Supriatna, Nyoman Jample dan I Ketut Suiasa, juga digemakan Vibrasi Taksu Bali.
“Apa yang telah dilakukan pasraman ini saya apresiasi sebagai implementasi pola Pembangunan Semesta Berencana, menuju Bali Era Baru,” ungkap Gubernur Koster usai pengukuhan sisya anyar, penyerahan ilekita patra, surat keputusan penunjukan bawati sebagai asisten nabe dan penghargaan kepada tokoh yang telah membesarkan Pasraman Pinandita Brahma Vidya Samgraha, Senin (27/2/2023).
Gubernur Koster menegaskan pola semesta berencana, Nangun Sat Kerthi Loka Bali mengandung makna menjaga kesucian dan keharmonisan alam Bali beserta isinya, untuk mewujudkan kehidupan krama Bali sejahtera bahagia niskala skala.
“Sesuai prinsip Tri Sakti Bung Karno, berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan. Dengan menyelenggarakan pembangunan secara terpola, menyeluruh, terencana,terarah dan terintegrasi dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan nilai-nilai Pancasila, 1 Juni 1945, lengkap sekali,” tegasnya.
Berdasarkan visi ini lahir inspirasi untuk membuat arahan kebijakan, menata pembangunan Bali secara fundamental dan komprehensif sesuai untengnya Alam Bali, Manusia Bali dan Kebudayaan Bali. “Dengan sepenuhnya menerapkan nilai-nilai kearifan lokal, Sad Kerthi, enam sumber utama kesejahteraan dan kebahagiaan manusia,” terangnya.
Senada dengan Gubernur Bali, Made Agus Mahayastra selaku Ketua Umum (Ketum) Pratisentana Pengeran Tangkas Kori Agung periode 2021-2026 menegaskan agar pemangku secara konsisten dan teguh menjaga Bali.
“Bagaimana secara dasar kerangkanya, pemangku yang dipilih sebagai pemangku bisa mengerti dari sastra maupun dari yang lainnya. Tidak sekedar jadi pemangku yang dipilih tanpa menyadari apa itu bahasa sastra, itu yang didalami,” ujarnya.
Bupati Gianyar ini mengapresiasi seleksi di P2-BVS dimana pendidikan pemangku dasar selama 2 tahun dan pemangku madya selama 5 tahun.
“Itu berarti seleksinya ketat sekali, kedepan pasraman ini perlu ditingkatkan dan pasraman ini sudah tidak memuat lagi 2.000 pemangku. Nanti kita bergotong royong, mudah-mudahan ada tempat lebih representatif, lebih nyaman untuk membangun pasraman, jangan di tengah-tengah kota, lebih baik di pinggiran,” tandasnya.
Menyikapi dukungan dan harapan tersebut, Ida Bhawati Herkmawan selaku Kepala Pasraman Pinandita Brahma Vidya Samgraha menandaskan, pasraman yang dipimpinnya tidak mencetak pinandita/pemangku.
“Pasraman ini didirikan sebagai tempat belajar, meningkatkan pengetahuan tentang kepemangkuan, tempat para sisya meningkatkan kemampuan di bidang sesana kepemangkuan, yang bisa mencerminkan pemangku sebagai publik figur di masyarakat,” ujarnya.
Setelah berusia 17 tahun, ia juga berharap Pasraman Pinandita Brahma Vidya Samgraha mendapat perhatian perhatian pemerintah untuk bisa dikembangkan sebagai tempat pembinaan umat. (kar,dha)








