
GIANYAR – Sertu I Wayan Sumerta, anggota Koramil 16-04 Blahbatuh, Kodim 1616 Gianyar, punya pengalaman berkesan saat BKO (Bawah Kendali Operasi) ke Papua Barat.
Selama 13 bulan bertugas di Distrik Kwoor, Kabupaten Tembrauw, Papua Barat, Sertu I Wayan Sumerta membumikan ulatan kelabang mantri berbahan daun kelapa yang umumnya dipakai untuk upacara yadnya di Bali.

Prajurit asal Banjar Roban, Desa Bitra, Gianyar ini bercerita, awalnya ada peresmian Gereja di Distrik setempat. Para tokoh dan ketua adat meminta bantuan TNI dibuatkan gapura menggunakan bahan seadanya seperti kayu dan cat.
“Karena kurang begitu bagus dan kebetulan ada pohon kelapa dan bunga-bunga sehingga muncul ide membuat ulatan kelabang mantri,”ucap Sertu I Wayan Sumerta saat ditemui, Senin (6/2/2023).
Idenya itu pun mendapat persetujuan dari tokoh adat.
“Hasilnya banyak yang takjub. Apalagi, dalam peresmian Gereja itu dihadiri bupati setempat. Meski tidak sebagus di Bali, tapi banyak warga lokal yang senang melihatnya,” kenang Sumerta yang saat itu BKO bersama 23 Prajurit Kodim Gianyar dan ditugaskan di Pos Ramil Kwoor.
Tak hanya untuk hiasan gapura, ia juga membuat ulatan kelabang mantri untuk karangan bunga.
“Saat itu, ada seorang tokoh adat yang meninggal. Karena membeli karangan bunga ke kota cukup jauh dan berbiaya mahal, saya buatkan dari ulatan kelabang mantri,” tuturnya.
Sejak itu, setiap ada tokoh yang meninggal dirinya selalu membuat karangan bunga berbentuk ulatan.
“Selama 13 bulan tugas di sana, sudah sekitar 10 lebih karangan bunga dibuat,” ujarnya.
Sumerta pun didapuk mengajari siswa sekolah membuat ulatan kelabang mantri. Bahkan, warga lokal juga ikut belajar.
“Setiap ada acara di Gereja, masyarakat membuat ulatan itu,” tutur ayah tiga anak ini.
Berkat kreativitasnya itu, Sumerta mendapat penghargaan dari Danrem 181/Praja Vira Tama yang mewilayahi Provinsi Papua Barat. (jay)








