
Berdasarkan Permenkes Nomor 519 tahun 2011, anestesia regional merupakan tindakan yang dilakukan oleh dokter spesialis anestesiologi yang kompeten. August Bier dikenal sebagai dokter anestesi yang pertama anestesi regional (Bier Block) pada tahun 1908.
Anestesi neuraksial, merupakan istilah kelompok untuk menyebutkan anestesi spinal, kaudal, dan epidural. Saat ini, blok neuraksial secara rutin digunakan untuk pereda nyeri saat persalinan, operasi Caesar, pembedahan orthopedi, pereda nyeri saat operasi, dan terapi untuk nyeri kronis.
Jika anestesi neuraksial akan diberikan, risiko dan manfaat-nya harus didiskusikan dengan pasien, dan persetujuan terhadap apa yang dokter anestesi informasikan harus diperoleh. Pasien harus memahami bahwa mereka akan memiliki sedikit atau tidak ada fungsi motorik ekstremitas bawah sampai efek obat habis.
Kontraindikasi mutlak untuk dilakukannya anestesi neuraksial termasuk diantaranya tidak adanya persetujuan pasien, tekanan di dalam tengkorak meningkat, dan terdapat infeksi pada lokasi suntikan.
Sedangkan kontra-indikasi relatif termasuk diantaranya kekakuan katup jantung berat dan sumbatan aliran dari jantung ke seluruh tubuh, namun dengan pemantauan dan kontrol yang ketat dari dokter anestesi, anestesi neuraksial dapat dilakukan dengan aman pada pasien dengan kekakuan katup jantung.
Pasien-pasien yang sedang mengkonsumsi anti-koagulan atau antiplatelet juga tidak disarankan untuk dilakukan neuraksial blok, karena bisa meningkatkan risiko hematoma (perdarahan di bawah kulit).
Efek samping dari anestesi epidural, spinal, atau kaudal bervariasi dari yang ringan hingga yang menyebabkan kelumpuhan dan ancaman nyawa. Komplikasi dari anestesi neuraksial dapat dibagi berdasarkan respon fisiologis tubuh pasien yang berlebihan, penempatan jarum, atau toksisitas obat.
Berdasarkan respon fisiologis tubuh yang berlebihan, komplikasi yang dapat terjadi berupa, hipotensi berat, bradikardia, gangguan napas, gangguan berkemih, hingga henti jantung.
Komplikasi yang berhubungan dengan kesalahan penempatan jarum diantaranya anestesi yang tidak adekuat, kejang, penurunan kesadaran, hipotensi, gangguan irama jantung, nyeri punggung, nyeri kepala, cedera saraf yang mengakibatkan kelumpuhan, perdarahan di celah saraf, dan infeksi. Selanjutnya komplikasi yang berhubungan dengan keracunan obat, yaitu nyeri punggung yang menjalar ke kaki tanpa diikuti kelemahan pada kaki hal ini terjadi setelah pasien sembuh dari efek anestesi.
Meskipun risiko terjadinya komplikasi relatif rendah, tetapi setiap tindakan anestesi neuraksial perlu dilakukan secara hati-hati. Selain itu penting untuk dijelaskan pada pasien mengenai seluruh risiko dari tindakan yang akan kita lakukan. Pasien juga harus benar-benar mengerti tentang risiko tindakannya sebelum menyetujui apa yang dijelaskan dokter anestesi Maka dari itu tidak adanya persetujuan dari pasien menjadi salah satu kontraindikasi yang mutlak untuk tidak dilakukannya anestesi regional. (*)
penulis: dr Rani Pradnyaswari








