
DENPASAR – Transportasi publik di Bali Trans Metro Dewata (TMD) yang sudah beroperasi sejak September 2020, sampai saat ini masih sepi penumpang. TMD yang sudah beroperasi saat ini melayani 5 koridor dengan 105 unit kendaraan bus metro sedangan 2 koridor menggunakan Bus Trans Sarbagita. Dengan demikian kedua mode transportasi publik ini melayani 7 koridor. Hanya saja, kedua transportasi publik ini di Bali masih tetap sepi penumpang dikarenakan masyarakat Bali lebih menikmati mempergunakan kendaraan pribadi yang bisa lebih leluasa bergerak kemana-mana sesuai tujuannya.
Sepinya minat masyarakat memanfaatkan layanan transportasi publik diakui oleh Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Bali Gede Wayan Samsi Gunarta, beberapa waktu lalu di Denpasar.
Menurutnya dari 5 koridor TMD yang sudah banyak penumpangnya pada koridor 1 dengan trayek dari Sentral Parkir Kuta-Terminal Pesiapan Tabanan. Trayek ini memiliki 59 halte dengan rute 59,3 KM. Sementara koridor 2, TMD beroperasi dengan trayek GOR Ngurah Rai Denpasar-Bandara Ngurah Rai. Trayek ini memiliki 38 halte dengan rute 32,9 KM.
Kadishub Provinsi Bali Samsi Gunarta menjelaskan, koridor lainnya masih dalam perbaikan koneksi sehingga keberadaan penumpang masih tergantung hari bahkan masih sepi penumpang. Sementara koridor 1 dan 2 sudah ramai penumpang dan itu artinya masyarakat sudah memulai memanfaatkan transportasi publik.
Menurutnya penyediaan transportasi publik merupakan kewajiban pemerintah untuk menyediakan layanan transportasi publik yang aman dan murah. Sebab, kalau semua masyarakat Bali mempergunakan kendaraan pribadi dipastikan Bali akan macet total dan kecelakaan akan lebih banyak terjadi hingga membuat banyak nyawa yang melayang karena kecelakaan.
Oleh karenanya, masyarakat harus memulai mengubah prilakunya untuk beralih ke transportasi publik yang aman dan dengan harga yang murah.
“Menghindari kemacetan dan kecelakaan, kedepan, semua negara akan menerapkan transportasi publik yang aman, murah dan Bali sudah menerapkan melalui bantuan pemerintah sejak 2020 lalu,”ujarnya.
Dalam operasionalnya, menurut Samsi Gunarta belum memperhitungkan keuntungan. Sebab, dihitung secara ekonomis bisnis dipastikan biaya operasional tidak akan tertutupi melihat sepinya penumpang. Selama ini biaya operasional ditanggung pemerintah melalui pendapatan pajak.
Samsi Gunarta menambahkan, akan lebih baik masyarakat memanfaatkan transportasi publik yang aman dan murah ketimbangan beban pemerintah akan sangat berat untuk membangun jalan terus dan lahan akan habis hanya untuk pembangunan jalan saja.
“Sayang sekali keberadaan transportasi publik yang ada tidak digunakan, mari kita berpikir demi keamanan, kènyamanan agar tidak terjadi kemacetan dan kecelakaab,”pungkasnya. (arn/jon)









sebelum mengajak masyarakat sebaiknya memberikan contoh terlebih dahulu, para pejabat dan jajaran dishub unt menggunakan sarana umum tersebut… menyuruh orang lain berbuat baik memang gampang, tapi diri sendiri tidak mau melakukannya..