
TABANAN – Barong Bangkung biasanya dipentaskan dengan cara ngelawang dari pintu ke pintu rumah warga berkeliling desa pada saat perayaan hari raya Galungan sampai Kuningan. Namun kali ini khusus di desa adat kota Tabanan, puluhan barong bangkung dipertemukan untuk dalam kegiatan ‘Mepetuk Agung’ di panggung terbuka Garuda Wisnu Serasi (GWS) Tabanan, pada Sabtu (18/6/2022) malam. Kegiatan ini mendapat sambutan antusias warga Tabanan dan sekitarnya yang memenuhi Lapangan Taman Bung Karno
Ide kreatif ini muncul dari Paiketan Sekaa Teruna Desa Adat Kota Tabanan yang ingin membuat event membangkitkan kembali seni budaya yang selama dua tahun ‘tertidur’ lantaran pandemi Covid-19. Kegiatan ini untuk meningkatkan rasa persaudaraan antar yowana sekaligus memberikan ruang bagi pemilik talenta seni budaya berkreasi.
Bendesa adat Kota Tabanan, I Gusti Gede Ngurah Siwa Genta menjelaskan, ada sekitar 23 barong bangkung yang tampil dalam event ‘Mepetuk Agung’ yang baru pertama kali dilaksanakan Paiketan Sekaa Teruna Desa Adat Kota Tabanan. Bahkan, 3 diantaranya partisipan dari desa di luar desa adat Kota Tabanan, seperti dari desa Gubug, desa Bongan dan desa Wanasari.
“Karena namanya Mepetuk Agung, pesertanya pasti banyak. Tetapi karena keterbatasan waktu dan banyaknya partisipan ada sekitar 23 seka barong bangkung, jadi tiap tampil ada 5 sekaa dan masing-masing diberikan waktu lima menit untuk menampilkan gaya khas mereka,”terangnya, Minggu (19/6/2022).
Terkait dengan ‘Mepetuk Agung’ ini, juga bertujuan mencegah kemungkinan adanya gesekan kegiatan ngelawang yang bisa saja terjadi.
“Banyak barong bangkung yang sliwar sliwer entah siapa itu tidak saling kenal ketika bertemu atau berpapasan, bisa terjadi gesekan karena mudah sekali kalau sudah dikompori pihak ketiga sehingga terjadi benturan,” sebutnya.
Dengan event yang digelar ini paling tidak bisa mengajak semua sekaa yang ada di desa adat kota Tabanan sehingga mereka (pemuda) ini saling mengenal. Termasuk memberikan panggung, agar masyarakat bisa melihat lebih banyak lagi kesenian barong bangkung yang ada.
Kegiatan ini rencananya akan dikemas untuk bisa menjadi agenda rutin tiap enam bulan atau saat hari raya kuningan, apakah nantinya juga akan dilombakan sehingga tumbuh kreasi para yowana untuk seni barong ini.
“Akan kami evaluasi dan mantapkan kembali, bila perlu digelar parade barong bangkung dari wantilan setra desa adat Kota menuju GWS, biar banyak masyarakat yang menyaksikan,” tandasnya.
Siwa Genta menambahkan, event ini dibuat untuk meningkatkan rasa persaudaraan antar Yowana, termasuk memberikan ruang bagi mereka yang memiliki talenta seni budaya tidak hanya yang bersifat tradisional saja, untuk tampil apalagi Tabanan memiliki gedung kesenian I Ketut Maria dan GWS.
Pihaknya berencana akan memohon dukungan Pemerintah Daerah kabupaten Tabanan untuk bisa dilaksanakan minimal sekali dalam satu bulan, menghidupkan kota Tabanan dalam kegiatan seni adat dan budaya.
“Tidak hanya seni tradisional tetapi juga yang memiliki seni modern seperti talenta musik juga akan diakomodir dengan adanya paiketan suka teruna ini,” imbuhnya.(jon)








