
DENPASAR – Anggota Komisi II DPRD Bali Ketut Suwandhi secara tegas menyampaikan keluhan masyarakat di Denpasar, bahwa jalan-jalan percabangan yang ada di wilayah Kota Denpasar ‘dedek lidek’ alias rusak berat. Mulai dari di buka pembangunan jalan baru yang kini sudah mencapai belasan tahun lamanya, sampai sekarang belum pernah diaspal.
“Mulai jalan-jalan percabangan di sepanjang jalan Tukad Badung, Renon Denpasar belum ada yang diaspal. Semua jalan percabangan rusak berat dan kerusakan ini sudah bertahun-tahun terjadi dan tidak pernah mendapat perhatian dari pemerintah kota,”kata Ketut Suwandhi di Denpasar, Kamis (19/5/2022).
Politisi Golkar dari Denpasar ini mengatakan kalau jalan induk sepanjanag jalan Tukad Badung sudah diaspal bagus. Namun jalan percabangan dari jalan Tukad Badung mulai dari Tukad Badung I sampai Tukad Badung 13, tidak pernah mendapat perhatian. Sebelum pandemi, anggaran masih ada dari Pemkot tetapi tidak pernah direncanakan perbaikannya dan situasi sekarang sudah dipastikan anggaran tidak ada karena alasan Covid -19.
Menurut Suwandhi jalan ini sudah dibangun sejak LC Renon dan kawasan ini juga sudah banyak dibangun perumahan dan menjadi pemukiman warga penduduk yang cukup padat di kawasan Tukad Badung Renon. Masyarakat juga sudah membayar pajak tetapi, sejak jalan ini dibuka, sama sekali tidak pernah disentuh perbaikan, jangankan pengaspalan, pengurugan jalanpun tidak pernah dilakukan.
“Dalam kegiatan reses guna menjaring aspirasi masyarakat Denpasar yang dilakukan DPRD Bali, banyak usulan perbaikan infrastruktur jalan terutama di sepanjang jalan percabangan jalan Tukad Badung Renon,”ujarnya.
Hal yang sama juga terjadi di jalan Kebo Iwa selatan, Padsngsambian. Mantan Wakil Ketua DPRD Kota Denpasar dua periode ini mengatakan, pihaknya belum sempat memastikan ke Dinas Pekerjaan Umum, apakah sepanjang jalan Kebo Iwa Selatan menuju jalan Gatot Subroto Barat merupakan jalan provinsi atau kota.
Sebab, sejak kepemimpinan AA Ngurah Puspayoga sebagai walikota, berlanjut ke pemimpinan IB Rai Dharmawijaya Mantra sampai walikota sekarang, belum pernah tersentuh perbaikan, baik pengaspalan maupun perbaikan saluran got sepanjang jalan Kebo Iwa selatan. Akibatnya, kata Suwandhi setiap musim hujan air meluap kejalan dan saluran got banyak yang sudah buntu dan tidak pernah tersentuh penggelontoran.
Ketut Swandhi menambahkan, hal yang sama juga dikeluhkan warga Denpssar yang ada di pusat Kota terkait infstruktur dan langganan banjir disaat musim hujan. Seperti di wilayah desa Sumerta, Kedaton, Jalan Kenyeri dan Kecubung Denpasar. Setiap musim hujan, air got meluap kejalan. Padahal, wilayah Sumerta dan daerah Klandis, banyak ada pembuangan melalui sungai-sungai kecil. Lantaran tidak pernah ada perhatian terhadap wilayah rawan banjir, wilayah tersebut lepas dari pemantauan.
Pihaknya berharap pemerintah kota melalui dinas terkait harus melakukan pemetaan titik-titik lokasi wilayah rawan banjir sehingga sebelum musim hujan sudah dilakukan antisipasi. Melakukan penggelontoran secaran rutin sebelum musim hujan tiba.
“Ini pekerjaan mudah, tetapi sering dilupakan dan tidak pernah dilakukan saat musim kemarau. Saat musim hujan, air sudah meluap, semua pada pusing atasi persoalan banjir,”pungkasnya. (arn/jon)








