
DENPASAR – Regulasi atau aturan kelas yang dipertandingkan di Porprov Bali XV/2022 harus diikuti minimal lima atlet dari 5 kabupaten/kota berbeda di Bali nampaknya terus memunculkan kontroversial. Setelah sebelumnya Ketua Umum PBFI Gianyar menyatakan keberatan dilanjutkan dengan KONI Badung baru-baru ini, giliran Pengprov FYI Bali juga mengaku berat. Hanya saja FYI Bali tetap akan kerja keras untuk menyiapkan 5 atlet dari kabupaten/kota berbeda di Bali untuk kelas yang dipertandingkan.
Keputusan aturan tersebut yang dikeluarkan KONI Bali itu membuat tidak popular karena terkesan tidak melihat adanya cabang olahraga (cabor) olahraga baru yang tidak mudah menggali atlet dan membutuhkan waktu tidak bisa cepat. Dasar detil aturan itu sendiri juga kurang bisa disosialisasikan dasar atau alasannya terutama terhadap cabor baru.
Terlepas dari semua itu, FYI Bali meski merasa berat tapi akan tetap mempersiapkan agar kelas yang dipertandingkan di Porprov Bali nantinya bisa diikuti sesuai aturan KONI Bali tersebut.
“Ya jelas kalau dibilang berat jelas berat karena memang yongmoodo anggaplah olahraga baru yang masih butuh banyak menggali atlet. Dan itu bukan pekerjaan mudah karena kendalanya memang kami mash dan akan terus mensosialisasikan serta mengembangkan olahraga ini,” tutur Ketua Harian FYI Bali Gede Agra Kumara di sekeretarist FYI Bali, Selasa (17/5/2022).
Guna menyaipkan semua itu, saat pelatihan pelatih dan wasit yongmoodo baru-baru ini juga telah ditekankan utamanya bagi para pelatih. Penekanan itu tak lain yakni agar menggali atlet baik putra maupun putri.Proyeksinya cabor yongmoodo bakal mempertandingkan 12 kelas di Porprov Bali 2022 terdiri dari 8 kelas putra dan 4 kelas putri.
“Satu lagi dalam menggali atlet memang tidak mudah apalagi kini waktunya mepet dengan gelaran Porprov Bali 2022. Tapi kam Bersama kabupaten/kota akan bekerja keras menyiapkan itu semua,” pungkas Agra Kumara. (ari/jon)








