
DENPASAR – Guru Besar Ilmu Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Badung, Prof. Asep Saeful Muhtadi mengatakan, setiap agama tidak pernah mengajarkan kebencian apalagi kekerasan sehingga diyakini akar konflik bukan dari agama.
Prof. Asep Saeful Muhtadi menyampaikan pandangannya tersebut pada webinar Series of Communication Series #2, yang digelar Prodi Magister Ilmu Komunikasi Hindu Pascasarjana UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, Jumat (25/2/2022).
Menurut Prof. Asep Saeful Muhtadi, klonflik biasanya dipicu oleh faktor lain yang dapat menyemangati timbulnya sikap maupun perilaku yang sangat tidak produktif.
“Cemburu, prasangka dan sebangsanya biasanya merupakan sikap-sikap yang dapat memicu kekerasan. Hal ini timbul karena tidak adanya usaha klarifikasi,” ujarnya.
Selain Prof. Asep, Webinar Communication Series #2 juga menghadirkan pembicara Prof. Relin sebagai keynote speaker yang juga Direktur Pascasarjana UHN IGB Sugriwa. Kemudian, Prof. I Nengah Duija, dan Prof. I Nyoman Yoga Segara.
Webinar Series of Communication#02 melibatkan mahasiswa angkatan 2021 sebagai panitia yang diikuti 200 peserta dari berbagai perguruan tinggi. Program ini merupakan media dan mimbar akademik yang membahas isu-isu seputar fenomena komunikasi dan permasalahan sosial.
Sebagai pembuka webinar, Prof. Relin menyampaikan, keragaman budaya, latar belakang keluarga, agama, dan etnis saling berinteraksi dalam komunitas masyarakat Indonesia.
Dalam komunikasi horizontal antar masyarakat, Mulyana (2008) menyebut, benturan antar suku masih berlangsung di berbagai wilayah, mulai dari sekadar stereotip dan prasangka antar suku, diskriminasi, hingga ke konflik terbuka dan pembantaian antar suku yang memakan korban jiwa.
Keragaman suku, ras, agama, perbedaan bahasa dan nilai-nilai hidup yang terjadi di Indonesia sering berbuntut pada berbagai konflik.
Konflik di masyarakat yang bersumber pada kekerasan antar kelompok yang meledak secara sporadis di berbagai kawasan di Indonesia menunjukkan betapa rentannya rasa kebersamaan yang dibangun dalam Negara-Bangsa Indonesia.
“Betapa kentalnya prasangka antara kelompok dan betapa rendahnya saling pengertian antar kelompok,”kata Prof. Relin.
Sementara, Prof. Duija dalam paparannya megatakan, konflik yang terjadi antar golongan, etnis atau kelompok tidak lepas dari kemampuan dan kematangan pendidikan seseorang menangkap simbol – simbol.
“Bahwa agama dan ilmu adalah renungan atau kontemplasi atas pengalaman,” ujarnya.
Teologi sebagai poros perenungan pengalaman paling dalam, maka dari sangat penting hadirnya ilmu pengetahuan.
“Kebenaran absolut tidak ditafsirkn pada kebenaran yang relatif, porosnya adalah perenungan secara sistematis yang dapat dilihat secara empiris,” jelasnya.
Hal senada juga disampaikan Prof. Yoga. Menurutnya, hambatan komunikasi lintas budaya seperti fenomena gunung es yang terbagi menjadi dua, yaitu terbenam di bawah air dan yang tampak di batas air.
Hambatan yang berada di bawah air adalah faktor – faktor yang membentuk perilaku atau sikap seseorang dan hambatan ini kadang sulit dilihat atau diperhatikan seperti persepsi, norma, stereotipe, filosofi bisnis, aturan, jaringan, nilai, subculture group.
Sedangkan hambatan yang di atas air seperti fisik, budaya, perceptual, motivasi, pengalaman, emosional, linguistik, komunikasi non verbal, kompetisi.(sur)








