Kenaikan Harga Canang dan Emas Picu Inflasi Bali 0,63 Persen

0
165
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Wilayah Provinsi Bali Trisno Nugroho.

DENPASAR- Kenaikan harga canang sari dan emas selama periode November 2021 memicu terjadinya inflasi 0,63% (mtm) di Provinsi Bali.

Rilis Bank Indonesia Wilayah Provinsi Bali, Kamis (2/12/2021),  inflasi  mengalami kenaikan dibanding bulan sebelumnya yaitu -0,19% (mtm). Secara spasial, inflasi terjadi di Kota Denpasar dan Kota Singaraja dengan pertumbuhan masing-masing 0,71% (mtm) dan 0,12% (mtm).

Peningkatan tekanan harga terjadi pada seluruh kelompok, dengan tekanan tertinggi pada kelompok volatile food diikuti kelompok administered price dan core inflation. Secara tahunan, Bali mengalami inflasi 1,87% (yoy), lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya hanya 1,45% (yoy), bahkan dari inflasi nasional sebesar 1,75% (yoy).

Kelompok barang core inflation mencatat inflasi sebesar 0,54% mtm (1,52% yoy), terutama disebabkan oleh naiknya harga canang sari menyusul meningkatnya frekuensi upacara keagamaan seperti Galungan dan Kuningan.

Selain itu, harga emas perhiasan juga tercatat mengalami peningkatan harga seiring dengan tren harga emas dunia yang meningkat. Kelompok barang administered price mencatat inflasi sebesar 0,58% mtm (1,72% yoy).

Peningkatan tekanan harga terutama terjadi pada harga angkutan udara seiring  meningkatnya aktivitas penerbangan ke Bali sebagai dampak penurunan level PPKM sejak Oktober.

Kelompok barang volatile food juga mengalami inflasi sebesar 1,08% mtm (3,64% yoy). Peningkatan harga terutama terjadi pada komoditas minyak goreng seiring dengan tren kenaikan harga minyak sawit dunia sejak awal tahun.

“Bank Indonesia menilai inflasi Bali sampai dengan akhir tahun 2021 cenderung rendah dan stabil,” ujar Kepala Perwakilan Bank Indonesia Wilayah Provinsi Bali Trisno Nugroho.

Kendati demikian, kata Trisno Nugroho, program 4K (Ketersediaan pasokan, Keterjangkauan harga, Kelancaran distribusi dan Komunikasi yang efektif) melalui High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah (HLM TPID) tetap terus didorong, terutama Kerja sama Antar Daerah (KAD), digital farming dan e-commerce. (sur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

13 + 7 =