
DENPASAR – Tim kesenian Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) menampilkan garapan seni kolaborasi “Sehari bersama Kaltim” di Festival Seni Bali Jani (FSBJ) III di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Denpasar Provinsi Bali, Senin 25 Oktober 2021.
Pementasan selama dua jam mulai pukul 10.00 WITA itu tak hanya menyajikan hiburan segar, tapi juga memberikan warna terhadap ajang seni tahunan yang dihelat Pemerintah Provinsi Bali. Kehadiran duta kesenian Kaltim sekaligus menjadikan Bali sebagai contoh dalam mengelola kebudayaanya. Terlebih, Kaltim tak lama lagi menjadi Ibu Kota Negara.
Ketua Dewan Kesenian Kaltim Haji Karmin mengatakan, pihaknya melihat Bali sebagai destinasi pariwisata karena budayanya. “ Kami kembali hadir untuk kesekian kalinya di Bali dan ingin banyak belajar tentang mengelola budaya karena Bali secara konsisten menata, menjaga budayanya dengan baik,” kata Kasmin didampingi Kasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kaltim, Lusy.
Tim kesenian Kaltim didukung pemain-pemain terbaik menampilkan tiga jenis kesenian dalam satu penyajian, yaitu fashion, musik dan tari. “Kami menyajikan kesenian tradisional yang dikemas baru dan dibuat kontemporer, tetapi masih memiliki muatan-muatan tradisional. Garapan seni ini kami sesuaikan dengan festival di Bali ini, yaitu “jani” atau kekinian itu,” jelasnya.
Kegiatan kesenian tersebut didukung oleh kabupaten dan kota di Kaltim seperti Kabupaten Penajam Pasir Utara, Kabupaten Pasir, Kabupaten Brow, Kabupaten Mahakam Ulu, Kota Madya Balikpapan dan Provinsi Kaltim. Mereka berkolaborasai untuk membuat karya baru dengan tetap berpijak pada kesenian tradisi Kaltim yang ada.
“Kali ini kami menampilkan para juara yang biasa tampil dalam acara-acara festival di Kaltim dengan sekitar 80 orang pendukung. Kaltim mencoba mengkolaborasi semua kabupaten dan kota karena kita menyatu seni budaya. Mau tidak mau, Kaltim harus siap, karena akan menjadi Ibu Kota Negara,” ungkapnya.
Haji Karmin menambahkan, kehadirannya di ajang FSBJ untuk menggali sesuatu yang unik untuk bisa dikembangkan di Kaltim dan tim kesenian Benua Etam itu juga kerap tampil di Pesta Kesenian Bali (PKB). “Nah, sekarang ini ikut yang “jani”-nya masa kininya, modern dan kontemporernya,”ucapnya.
Ia mengaku banyak yang bisa dilihat dan dipetik di Pulau Dewata untuk dikembangkan di Kaltim. Menurutnya, Bali merupakan sebuah pulau yang hidup, kesenian tradisional jalan, kontemporer juga jalan disesuaikan dengan jaman. “Terus terang saja, kami baru saja dari daerah lain di nusantara melakukan kegiatan berkaitan dengan budaya karena kita harus memahami semua itu. Bali cukup bagus menjadi barometer tata kelola budayanya sehingga Bali kita jadikan rekomendasi untuk Kaltim karena sifatnya internasional. Bali sangat hidup, budaya, adat, agama bisa dipadukan, sehingga kami berharap bisa diterapkan di Kaltim. Bali betul-betul kota pariwisata bukan hanya di Indonesia, tetapi dunia. Inilah kita banyak pelajari berkaiatan dengan Ibu Kota Negara,” paparnya.
Kasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Lusy, menimpali, di Kaltim kesenian tradisi masih tetap terjaga, tapi untuk kontemporer juga masih bisa dikembangkan. “Anak-anak muda masih mempertahankan tradisi, tetapi kalau diminta kontemporter itu bisa. Di Kaltim banyak ada sejarah dan budaya yang beragam, Cuma bedanya belum inten dikembangkan seperti di Bali, kesenianya, agamanya, adatnya berjalan bersama-sama saling mendukung,” imbuhnya.(sur)








