
TABANAN – Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) mendorong Pemerintah Tabanan untuk segera membentuk satuan pendidikan aman bencana (SPAB). Mengingat sejumlah sekolah di Tabanan banyak berada pada daerah rawan bencana baik di pesisir maupun pegunungan.
Dalam sosialisasi yang digelar di ruang rapat lantai III Kantor Bupati Tabanan, Rabu 6 Oktober 2021. Analis Mitigasi Direktorat Pengurangan Resiko Bencana BNPB Aminudin Hamzah mengharapkan agar di Tabanan segera dibentuk satuan pendidikan aman bencana (SPAB).
“Kami mendorong Kabupaten Tabanan segera membentuk kesiapsiagaan satuan pendidikan terkait kebencanaan. Karena di Tabanan sendiri memiliki resiko bencana cukup tinggi,” kata Aminudin Hamzah, usai memberikan sosialisasi SPAB kepada BPBD, Dinas pendidikan, dinas sosial, masyarakat dan stakeholder lainnya.
Dia menyebut Tabanan memiliki potensi dan resiko bencana sedang hingga tinggi. Dan itu hampir semua terdapat pada sekolah-sekolah di Tabanan.
“Tabanan masuk resiko sedang sampai tinggi terjadinya bencana,” sebutnya.
Jika bersumber pada data Dapodik kan di Kemendikbud, cukup banyak sekolah-sekolah yang berada di daerah rawan beresiko bencana di Tabanan.Yakni sekolah yang berada rawan daerah gempa bumi. Namun resiko bencana cukup tinggi yakni sekolah yang berada di daerah pegunungan yakni tanah longsor seperti daerah Pupuan dan Baturiti. Kemudian bencana tsunami untuk sekolah yang berada dekat di pesisir pantai selatan pulau Bali berada di Kediri, Tabanan, Kerambitan, Selemadeg Timur, Selemadeg dan Selemadeg Barat. Dari sekolah-sekolah yang berada di lokasi rawan bencana pihaknya berharap dapat meningkatkan kapasitas kesiapsiagaan kebencanaan.
“Harapannya, guru maupun siswa dan masyarakat setempat yang berada di sekitar sekolah, tahu apa yang harus dilakukan jika terjadi bencana,” jelasnya.
Dia mencontohkan, dari berbagai pengalaman bencana yang ada salah satunya negara Jepang hampir 30 persen warganya yang selamat dari bencana itu merupakan faktor diri sendiri yakni peningkatan kapasitas terkait kebencanaan. Sisanya satu persen selamat karena ditolong oleh Tim Sar dan BPBD atau pun pemerintah.
“Makanya sangat perlu masyarakat terutama para siswa dan guru mengetahui yang dilakukan ketika terjadi bencana sehingga tidak menjadi korban,” tandasnya.
Dia melanjutkan dalam pembentukan satuan pendidikan aman bencana (SPAB) ada tiga pilar yang menjadi acuan. Yakni fasilitas pendidikan yang aman, manajemen pendidikan sekolah dan pendidikan pengurangan resiko bencana di sekolah. Dengan mencakup 10 langkah dan tahapan yang akan diberikan pelatihan kepada fasilitator di SPAB. Mulai dari penilaian mandiri, pengkajian resiko, pelatihan kepada para siswa maupun kepada para guru, penyusunan siaga bencana, protap, bina evaluasi dan terakhir dalam bentuk simulasi.
“Yang penting adalah penilaian mandiri apakah terjadi peningkatan kapasitas kebencanaan pada satuan pendidikan tersebut,” ungkapnya.
Dalam SPAB yang berat soal mengkaji struktur bangunan. Kajian soal struktur bangunan butuh ahli sendiri. “Namun kami di BNPB mencoba dari sisi orang dengan peningkatan kapasitas pemahaman tentang kebencanaan,” katanya.
Sebelumnya Asisten I Bidang Pemerintah dan Kesra Setda Tabanan AAN Satriya Tenaya mewakili Bupati Tabanan mengatakan, Tabanan memang tergolong daerah rawan bencana. Sebagian besar disebabkan karena faktor air seperti bencana tanah longsor maupun tsunami.
“Setidaknya ada sebelas jenis bencana yang terjadi di Tabanan sehingga termasuk rawan bencana dengan resiko sedang sampai tinggi,” ungkapnya.
Terkait hal tersebutlah, pihaknya mengapresiasi langkah yang dilakukan BNPB untuk membentuk SPAB di Tabanan dengan semakin banyak sekolah yang faham tentang mitigasi kebencanaan dan tahu cara mengantisipasinya.
“Kami sangat mendukung pembentukan SPAB di Tabanan. Apalagi saat ini baru satu sekolah yang sudah terbentuk SPAB yakni SMPN 2 Tabanan,” ungkapnya. (jon)








