Keluar Penjara, Penjual Ikan Bikin Pabrik Ekstasi Rumahan

0
200
Residivis Sam To ditangkap Polresta Denpasar dengan barang bukti ekstasi beserta bahan baku untuk produksi narkoba.
Residivis Sam To ditangkap Polresta Denpasar dengan barang bukti ekstasi beserta bahan baku untuk produksi narkoba.

DENPASAR – Pengalaman di penjara rupanya tak membuat Sam To (49) bisa lepas dari ketergantungan narkoba. Malahan, pria berkepala plontos yang dulunya hanya pengedar, kini mencari penghasilan berlipat ganda dengan memproduksi sendiri pil ekstasi.

Sam To yang menghirup udara bebas pada Desember 2020, menyewa rumah kos di kawasan Jalan Tukad Balian, Denpasar Selatan, sekaligus dipakai home industri pembuatan pil ekstasi. Bisnis barang terlarang yang dijalaninya selama empat bulan itu akhirnya terendus oleh petugas Satuan Reserse Narkoba Polresta Denpasar.

Kapolresta Denpasar Kombes Jansen Avitus Panjaitan mengatakan, terungkapnya home industri tersangk berawal dari informasi adanya transaksi narkoba di perumahan Kerta Petasikan, Denpasar Selatan. Hasil penyelidikan mengecurut ke residivis Sam To. Pada Rabu 14 Juli 2021 sekitar pukul 16.00 WITA, tersangka mengendarai motor melawan arus lalu lintas menuju halte bus di kawasan Sidakarya, tanpa sadar pergerakannya diintai petugas.

BACA JUGA:   Bupati Giri Prasta Serahkan Hibah kepada Banjar Suwung Batan Kendal dan Pesanggaran

Sampai TKP, pria asal Riau itu baru merasa curiga ada yang membuntuti. Ia langsung membuang botol kecil dibalut plaster hitam kemudian tancap gas motor hingga terjadi aksi kejar-kejaran. Upaya tersangka melarikan diri gagal kemudian kedua tangannya diborgol setelah petugas mendapati barang bukti. “Dia ditangkap sekitar 300 meter dari halte bus. Botol yang dibuangnya berisi lima butir ekstasi warna merah muda,”ujar Jansen Avitus Panjaitan, Kamis 22 Juli 2021.

Dari lokasi penangkapan, tersangka dikeler ke kosnya dan terungkap adanya industri rumahan ekstasi. “Di kamar kosnya, kami menemukan 281 butir pil ekstasi seberat 92,92 gram beserta bahan serbuk sebuk seberat 106,92 gram dan alat-alat untuk memproduksi ekstasi,”ungkap Jansen Panjaitan sembari menunjukkan barang bukti saat rilis di lobby Polresta Denpasar.

BACA JUGA:   Paulo Sergio Tinggalkan Bali United. Kenapa ?

Sam To belajar membuat ekstasi dari internet. Usut punya usut, tersangka yang pernah berjualan ikan di Benoa dengan mudah menakar bahan baku pembuatan obat terlarang karena pernah kuliah kedokteran saat muda, tapi tidak lulus. Bahkan, hasil uji laboratorium, racikan esktasi dicampur sedikit metamphetamin (Shabu). “Dalam seminggu, Sam To bisa dua kali memproduksi ekstasi. “Sekali produksi rata-rata 100 butir pil ekstasi berlogo superman, teddy bear, banteng, spongebob, dan rolex. Wilayah peredarannya di seputaran Denpasar,”kata Jansen.

Bahang baku beserta peralatan produksi dibelinya via online. Dengan modal Rp 5 juta, pria yang tinggal di Bali dari tahun 1992 mampu produksi 200 pil ekstasi dalam seminggu dan meraup uang Rp 58 juta dari harga Rp 290 ribu untuk satu pil sesuai harga di pasaran. “Kami masih mendalami kenapa tersangka bisa mendapat bahan baku ekstasi dari obat-obatan keras yang seharusnya memakai resep dokter,”tegas Kapolresta.

BACA JUGA:   Jambret Rampas Tas Rusia Ditangkap

Kombes Jansen juga membeberkan alat-alat pembuat esktasi seperti cetakan besi, besi landasan cetak berisi logo ekstasi, alat pemanas, serta timbangan elektrik. Sedangkan bahan baku yang disita berupa tiga botol hexymer – trihexyphenydyl, sebuah master stimulan, satu botol yarindo, obat gemuk, satu boto infitamol, obat tenggorokan, wang lin shu pian, satu box pawee cap dan beras merah sebagai pewarna. (dum)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

5 + fifteen =