20 Tahun Tak Dialiri Air, Petani Subak Balangan Mengadu ke Dewan

1
42
Petani di Subak Balangan dan Subak Uma Tagal, Desa Kuwum Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, temui Ketua DPR Badung

MANGUPURA – Sejumlah petani di Subak Balangan dan Subak Uma Tagal, Desa Kuwum Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, didampingi belasan mahasiswa GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia), Senin 22 Februari 2021, mendatangi Kantor DPRD Badung. Kedatangan mereka menyampaikan aspirasi, lantaran 20 tahun tidak mendapatkan aliran air, yang menyebabkan kekeringan di persawahan.Rombongan diterima Ketua DPRD Badung Putu Parwata didampingi Ketua Komisi I Wayan Regep beserta Anggota Komisi IV I Made Suardana.

Pekaseh Subak Balangan, I Ketut Matrayasa yang mengaku prihatin dengan kondisi petani anggota subaknya yang lebih dari 20 tahun menderita kekurangan air.

“Kami ingin aliran air irigasi Subak Balangan dan Uma Tegal dinormalisasi lagi. Selama ini aliran ke Subak Balangan dibeton sehingga tidak dapat air,” ucapnya.

Pihaknya berharap kalangan DPRD Badung bisa memperjuangkan masalah ini. Mengingat beberapa kali pergantian pimpinan di Kabupaten Badung, belum juga ada solusi terkait permasalahan di Subak Balangan.

Sementara itu, Ketua DPC Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Marhaen Denpasar Putu Jody Veriawan selaku mewakili desa Balangan menyatakan, sudah 20 tahun petani mengalami kesulitan air di Subak Balangan dan Uma Tegal.

“Ada 120 hektar lahan pertanian disubak setempat sulit mendapat air ke saluran irigasi dan hanya bisa menunggu air hujan baru bisa bercocok tanam,”katanya.

Ditambahkan, penyebab sulitnya petani di dua subak ini mendapat air karena aliran air ke Subak Balangan dan Uma Tegal ditutup beton, sehingga 300 petani didua Subak ini tidak bisa menanam padi. Selain itu, pembagian air irigasi subak sering tumpang tindih, akibat saluran irigasi dibeton, sehingga dimana keadilan bagi petani didua subak ini yang tidak sesuai dengan sila kelima.

Menyikapi persoalan ini, Ketua DPRD Badung, I Putu Parwata menyatakan siap mengwal aspirasi para petani didua Subak ini dengan cara bersurat ke Balai Wilayah Sungai Bali dan Pemprov Bali serta Bupati Tabanan.

“Ini adalah hak petani. Ini sangat memalukan, masak petani selama 20 tahun di Balangan sulit dapat air,”tegasnya.

Sumber permasalahan menurutnya, adalah pembagian air DAM dari Luwus. Dibagian lain, Wayan Regep menilai masalah petani ini sangat serius dan penting ditangani segera, sehingga pihaknya mendorong Ketua DPRD Badung berkoordinasi kepihak terkait. (lit)

1 KOMENTAR

  1. satu bukti lagi subak sudah mati… ataupun sudah SOBEK, jika tdk mau dibilang mati.. akibat kurang atau bahkan tdk adanya perhatian dilevel atas.. hanya sebatas jargon..
    sekarang ada pengaduan, bereaksi sebatas tanggapan kata .. siap mengawal aspirasi, ini adalah hak petani, penting ditangani segera… selesai rapat semua terlupakan kembali, atau mungkin entah kapan follow up komitmen kata kata tsb.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here