Hakim Rogoh Uang Bayar Denda Lima Terdakwa Penjual Arak

0
2791
TIPIRING : Lima penjual arak jalani sidang tipiring di PN Gianyar.

GIANYAR – Lima pedagang arak berinisial Wayan Re, IB PS, WD, Ni NL dan WS menjalani sidang tipiring di Pengadilan Negeri (PN) Gianyar, Rabu (18/11/2020). Menariknya, sanksi denda yang dijatuhkan kepada para terdakwa sebesar Rp 15.000 dan biaya perkara Rp 5.000  dibayar oleh Ketua Majelis Hakim Wawan Edi Prasetyo.

Dalam persidangan di ruang Candra, Hakim Wawan Edi Prasetyo menanyakan alasan  terdakwa WS menjual arak. Ia pun mengaku  terpaksa menjual minuman tradisional beralkohol itu untuk mencari penghasilan setelah dirumahkan dari tempat bekerja di bidang pariwisata akibat pandemi  Covid-19.  “Turis sepi pak. Saya bekerja sebagai sopir pariwisata dan sekarang dirumahkan,” ucapnya sembari mengakui kesalahan dihadapan majelis hakim.

 “Kalau setiap hari nangkap seratus orang karena jualan arak tidak apa-apa. Tapi ini justru akan menjadi bom waktu karena Gubernur saja bebas minum arak untuk cegah virus. Masa rakyat kecil yang belum tahu kebijakan ditangkap,”ujar hakim yang kemudian meminta terdakwa  menujukkan uang dalam dompet.

Uang dalam dompet yang dikeluarkan terdakwa sebesar Rp 300 ribu. Ditanya kembali oleh hakim apakah uang tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari ? terdakwa menjawab tidak. Ia juga  mengaku  memiliki seorang istri dan anak yang masih kecil.

“Ini masyarakat sudah susah menyambung hidup, dan Gubernur menyuarakan legalisasi arak, kenapa rakyat musti ditangkap?,” ungkap Hakim.

Wawan pun berharap adanya sosialisasi Pergub terkait legalitas arak  karena tidak semua warga mengetahui aturan hukum.  “Ini semestinya dilakukan pembinaan, pengawasan, dan pendampingan terlebih dulu. Penegak hukum  harus bisa menjaga kepantasan dan keadilan dalam sidang,” tegasnya.

Kasihan masyarakat kecil sedang terhimpit secara ekonomi, mereka menerima-menerima saja padahal Pak Gubernur setiap ada tamu disodori minuman arak. Tapi ketika rakyat kecil jualan arak kenapa ditangkap?. Kita juga wajib harus mencerahkan  dan mencerdaskan masyarakat,” tandas hakim.

Menurutnya, dalam Pergub tersebut ada batasan- batasannya. Salah satunya dilarang menjual arak kepada anak-anak, di tempat olah raga, tempat keagamaan dan harus berlabel. “Ada beberapa prosedurnya tetapi semestinya ada sosialisasi ke masyarakat agar tidak terjadi kebuntuan,” tandas Wawan yang tengah menyelesaikan S3 Hukum di Universitas  Udayana. (jay)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here