Jaga Ketahanan Pangan Denpasar, Prof. Supartha: Perlu Langkah Sistematis dan Kolaboratif

0
64
Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Udayana Prof. I Made Supartha Utama di webinar bertajuk “Jaga Ketahanan Pangan Denpasar”.

DENPASAR – Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Udayana Prof. I Made Supartha Utama menegaskan perlunya langkah sistematis dan kolaboratif dalam menjaga ketahanan pangan di Kota Denpasar.

Kolaboratif dimaksudkan Prof. I Made Supartha Utama mulai dari membuat peraturan ke dukungan yang nyata, bagi pelaku lapangan sampai ke pemasaran produk pertanian. “Alih fungsi lahan harus dihentikan karena itu bisa menyebabkan ketahanan pangan lokal menurun,” tegas Prof. Supartha dalam webinar bertajuk “Jaga Ketahanan Pangan Denpasar” yang digelar Sapama Center, Selasa (3/11/2020) malam.

Berdasarkan data Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Perkebunan Kota Denpasar tahun 2019, produksi padi di Kota Denpasar hanya berada di angka 28 ribu ton dalam setahun dan hanya mampu memberikan sekitar 5 % kebutuhan beras kepada 468 ribu jiwa penduduk di Denpasar.”Jadi, terjadinya alih fungsi lahan yang tinggi itu  secara jelas menyebabkan menurunnya daya dukung ketahanan pangan lokal,”jelasnya.

Agar alih fungsi lahan bisa ditekan, lanjut Supartha, pemerintah harus mengambil langkah yang efisien dan efektif agar sistem pertanian di Kota Denpasar memberikan nilai tambah dan pemasukan kepada masyarakat. Menurutnya, selama ini terjadinya alih fungsi dipengaruhi oleh kecilnya pendapatan yang didapat oleh masyarakat dari pertanian.

“Jadi sekecil apapun lahan yang ada, itu harus bisa dimanfaatkan untuk ketahanan pangan. Pemerintah harus mendukung kegiatan-kegiatan pertanian, mulai dari menfasilitasi bibitnya hingga sistem penasaran yang akan dilakukan bagaimana,” ujarnya.

Supartha kembali menegaskan, sistem yang dijalankan harusnya mengarah pada kelas konsumen yang mulai bergeser. “Konsumen di Denpasar  sudah mulai bergeser ke semi modern atau konsumen yang melihat kualitas pangan sebagai acuan berbelanja,”tandasnya.

Pengembangan pertanian juga harus merespon situasi itu denngan menghadirkan produk yang berkualitas dan ramah lingkungan sehingga bisa menjual dengan harga yang lebih tinggi.

Sementara, salah seorang pelaku pengembangan pertanian perkotaan  Gede Mantrayasa menyatakan, pihaknya berusaha agar mengembangkan kebun dengan memanfaatkan tanah kosong yang ada di wilayahnya di Banjar Tegeh Sari, Tonja, Denpasar.

Upaya ini kemudian menjadi gerakan kolaboratif yang melibatkan lembaga swadaya masyarakat, pemerintah serta warga desa.  Dari desa adat memberi dorongan dengan menetapkan aturan soal pengelolaan lahan kosong agar tidak menjadi tempat pembuangan sampah.“Kebetulan di wilayah kami, banyak yang menganggur karena terdampak pandemi. Gerakan ini ternyata berhasil menghadirkan kebun bersama serta usaha ternak lele yang menjadi alternatif pekerjaan bagi warga,”katanya.

Karenanya, pembuatan kebun kemudian makin meluas meski masih sebatas untuk memenuhi kebutuhan warga sendiri. “Kalau ke depannya, kami tentu ingin membuat jaringan pemasaran yang lebih luas bila produksi sayuran sudah cukup banyak dengan kualitas yang konsisten,” imbuhnya. (sur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here