Tingkatkan Pemahaman Generasi Muda, UPT MPRB Gelar Sarasehan Nilai Kearifan Lokal Bali

0
60
Sarasehan Nilai-Nilai Perjuangan Rakyat Bali.

DENPASAR – Bicara nilai -nilai kearifan lokal Bali, sejatinya telah tumbuh  sejak masa prasejarah. Berbagai bukti studi dapat ditemui melalui situs bangunan punden  berundak hingga tata cara penguburan ( sarkopagus ) dapat dijadikan acuan nilai-nilai kearifan lokal Bali bertumbuh cukup pesat.

Demikiam terungkap dalam Sarasehan bertajuk “Nilai-Nilai Kearifan Lokal Bali dalam Diorama Monumen Perjuangan Rakyat Bali” yang digelar UPT.  Monumen Perjuangan Rakyat Bali (MPRB), Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Kamis (22/10/2020) . Sarasehan menghadirkan dua narasumber yaitu Guru Besar Arkeologi Universitas Udayana Prof. Dr. I Wayan Ardika dan Prof. Dr. I Gde Parimartha yang diiikuti kalangan mahasiswa, dosen serta awak media.

Dalam pemaparanya,  Prof Dr I Wayan Ardika MA banyak mengulas terkait studi tentang kematian pada masa prasejarah yang banyak mengungkap berbagai kearifan lokal. “Sistem penguburan dan pemanfaatan, seperti nekara, sarkopagus, tempayan dan tanpa wadah juga menunjukkan kearifan lokal,” ucapnya.

Ia mencontohkan wadah kubur dari batu yang lazim dikenal dengan sarkopagus juga menunjukkan bentuk dan hiasan yang beragam, seperti bentuk pola hias melawak atau bondres dianggap memiliki kekuatan magis untuk menjaga roh dan mengantarkan ke alam baka. Keragaman ini dapat dikatakan perkembangan lokal atau kearifan lokal. “Upacara penguburan juga mencerminkan kegotongroyongan dan toleransi yang sudah tumbuh pada masa prasejarah. Pembuatan wadah kubur dan upacara penguburan tidak dapat dilakukan keluarga sendiri, namun melibatkan orang lain atau kerabat dan masyarakat secara umum,” kata Ardika.

Demikian pula dengan sejumlah punden berundak juga ditemukan di Bali sebagai simbol gunung dan tempat bersemayamnya roh leluhur. “Berbagai kearifan lokal ini masih berlaku hingga saat ini yang berawal dari masa prasejarah di Bali,” ucapnya.

Sedangkan sejarawan Bali Prof. Dr. I Gde Parimartha berpandangan peran desa adat dan tokoh masyarakat sangat penting artinya untuk menjaga dan memandu agar nilai-nilai kearifan lokal setempat tetap hidup dan lestari. “Berbagai bentuk kearifan lokal Bali telah tumbuh dan dijalankan di masa Bali Kuna, seperti Bhinneka Tunggal Ika, Catur Warna, Desa Kala Patra, Trikaya Parisudha, Tri Samaya, dan sebagainya. Semua itu menjadi pegangan hidup masyarakat Bali di masa Bali Kuna dan sangat dimengerti sampai sekarang,” kata Parimartha.

Parimartha menjelaskan,  sejumlah nilai kearifan lokal Bali, di antaranya Bhinneka Tunggal Ika yang bermakna pentingnya sikap saling menghargai antara penganut kepercayaan (agama) yang berbeda di masyarakat. Di Bali pada masa Bali Kuna itu sudah tercermin dalam penggunaan pendeta atau rohaniawan Siwa dan Budha.

Konsep Tri Kaya Parisudha diharapkan orang bersikap bijaksana dengan cara berkata, berbuat dan berpikir yang benar. Sedangkan Desa Kala Patra itu menunjukkan keluwesan orang Bali dalam menghadapi keadaan sesuai dengan tempat, waktu dan keadaan ketika diperlukan.

Sementara Catur Warna mengenai fungsi dari kelompok-kelompok yang berbeda profesi, yakni kelompok Brahmana sebagai pendeta, Ksatriya sebagai penguasa, Wesya sebagai pedagang, dan Sudra sebagai petani atau pembantu. “Semua kearifan lokal itu telah menjadi pegangan hidup masyarakat Bali. Akan tetapi, berbagai gerakan, nilai-nilai baru yang berkembang, cukup memengaruhi keadaan, sehingga terjadi perubahan di sana-sini,” ucap Parimartha.

Dalam hubungan perubahan tersebut, lanjut dia, masyarakat bersikap lebih pasif dan cenderung membiarkan perubahan nilai terjadi tanpa berusaha mengatasinya, terlebih kalau hal itu dipandang menguntungkan. “Oleh karena itu, peranan desa adat dan tokoh-tokoh masyarakat menjadi penting artinya dan perlu untuk memandu agar nilai-nilai kearifan lokal tetap hidup dan lestari,” katanya.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Prof. Dr. I Wayan “Kun” Adnyana dalam sambutannya dibacakan Plt. Kepala UPTD Monumen Perjuangan Rakyat Bali I Gede Sridarma mengatakan, sarasehan itu untuk meningkatkan pemahaman generasi muda terhadap kearifan lokal masyarakat Bali.”Harapan kami dapat memotivasi generasi muda dan mewariskan kearifan lokal masyarakat Bali yang telah ada sejak zaman prasejarah itu,” ungkapnya.

Menurut Sridarma, nilai-nilai kearifan lokal yang diwariskan para leluhur memiliki nilai-nilai adiluhung yang patut diteladani dan dikuatkan oleh generasi muda.(sur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here