Sempat di Titik Nadir, Kini Pelaku Seni Sedikit Terobati

0
159
TEROBATI : UPTD Monumen Perjuangan Rakyat Bali Dinas Kebudayaan Provinsi Bali memberi ruang kepada 27 penyaji seni dalam gelaran pentas seni virtual.

DENPASAR – Aktualisasi spirit kepahlawan dalam menjunjung solidaritas kemanusiaan di masa Pandemi Covid-19 diwujudkan dalam gelaran  karya   kreativitas seni virtual yang diharapkan mampu menjaga kegairahan pegiat seni di Bali.

Adalah UPTD Monumen Perjuangan Rakyat Bali Dinas Kebudayaan Provinsi Bali yang memberi ruang kepada 27 penyaji seni mulai dari seni musik, seni tari, hingga seni teater untuk ambil bagian dalam gelaran pentas seni virtual yang digelar sejak Juli sampai September 2020.

Bentuk kegiatan yang digelar melalui media dalam jaringan (daring) ini tak luput dari perhatian yang luar biasa dari para pegiat seni di Bali. Semangat animo kalangan kelompok, sanggar, yayasan seni yang sempat merasakan kondisi di titik nadir akibat terpapar pandemi  Covid-19 akhirnya sedikit terobati melalui hajatan pentas seni virtual ini.

Tak dipungkiri, dampak pandemi Covid -19 telah menyekat semua aktivitas di luar batas kenormalan tak terkecuali para pegiat budaya yang banyak kehilangan panggung dan secara pendapatan finansial pun mengalami  keterpurukan.

Hasilnya, dari sajian pentas seni virtual yang digelar UPTD MPRB secara keseluruhan dinyatakan telah sesuai dengan kerangka acuan kerja yang sudah ditentukan pihak MPRB selaku penyelenggara. “Harapannya, seniman atau partisipan dapat berkarya dengan menyelami perjalanan perjuangan rakyat Bali mulai dari jaman kerajaan sampai jaman perjuangan kemerdekaan dapat dipahami oleh senimanya sendiri sekaligus juga dapat diinformasikan  ke ranah publik lewat tayangan karya seni di media sosial, “ ungkap Wayan Pacet Sudiarsa, selaku kurator pagelaran.

Pacet yang juga dosen seni ini berharap melalui seni virtual ini pihak penyelenggara juga dapat mempromosikan keberadaan MPRB yang sangat penting kehadirannya untuk dibaca dan diselami oleh setiap generasi di Bali melalui 33 diorama perjuangan yang menjadi koleksi andalan MPRB saat ini.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Prof. Dr. I Wayan Kun Adnyana menjelaskan, kegiatan ini bertujuan untuk tetap menjaga semangat kreatif para seniman, pekerja seni, serta pelaku seni dan budaya juga untuk berkontribusi pada penanggulangan dampak pandemi Covid-19. ” Sangat banyak kelompok,komunitas,sekaa seni yang terhenti aktivitasnya karena pandemi Covid-19 yang mewabah. Kebijakan ini selaras dengan upaya mengimplementasikan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana menuju Bali Era Baru, ” ujar Prof. Kun Adnyana.

Ia menambahkan, Pemerintah Provinsi Bali melalui Dinas Kebudayaan sejatinya memfasilitasi secara keseluruhan sebanyak 202 komunitas  termasuk pelaksanaan seni virtual yang dilaksanakan oleh UPTD.MPRB. Pergelaran kali pertama diluncurkan bertepatan dengan Tumpek Wayang, Sabtu, 13 Juni 2020 melalui kanal youtube Disbud Prov. Bali. Peragaan dan pergelaran seni virtual ini diselenggarakan untuk tetap menjaga  kreatif seniman Bali di tengah situasi pandemi, sekaligus sebagai implementasi Visi Pemerintah Provinsi Bali 2018-2023.

Secara teknis,  setiap komunitas menampilkan masing-masing 2 versi karya (durasi 5 menit dan 30-45 menit).  masing-masing kelompok seni menerima dana sebesar Rp 10 juta . Jadi terdapat 404 karya, dengan melibatkan sekitar 4.040 seniman dan pekerja seni dari seluruh Bali. “Tentu ini angka yang tidak sedikit,” ucapnya.

Suami dari Ayu Ketut Putri Rahayuning, menuturkan lebih jauh, karena seni virtual ini akan menjadi relevan dan penting kemudian untuk melakukan pengkajian secara fokus terhadap karya-karya yang dihadirkan tersebut, sehingga akhirnya menemukan rumusan pemaknaan atas pencapaian karya, baik secara artistik maupun estetik.

Pada video seni virtual yang telah tayang tersebut, segala potret menghadirkan sosial sehari-hari, juga gerak tari dan pentas drama tidak sepenuhnya hadir utuh seperti apa yang disaksikan atau ditonton langsung.

Memahami tentang seni virtual, ucap Prof. Kun Adnyana, dapat dilihat pada tayangan dimana semua jadi potongan potongan yang terangkai bebas, ruang satu dengan ruang lain tersambung dalam bingkai kewaktuan yang sama. Pada satu bingkai tayangan, yang muncul pada layar, ruang berbeda jarak dan waktu tersebut luluh bertemu secara padu. “Citra waktu yang hadir serba virtual, tersambung oleh teknologi informasi jaringan, atau pun lewat teknik gunting/pilah gambar, dan sambung (cutting and editing) secara digital. Setidaknya terdapat tiga pola penggabungan gambar dalam membingkai citra waktu yang dimaksud yakni pembingkaian atau kolase, penumpukan atau lapisan gambar (montase), dan virtualisasi (dari teknik green screen sampai augmented reality (AR), “tandasnya. (I Putu Suryadi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here