Adaptasi Sektor Pariwisata, Buleleng Siapkan Buku Panduan Wisata

0
55
Bupati Buleleng Agus Suradnyana saat menghadiri dokumentasi jajanan khas buleleng di Rumah Intaran Kubutambahan

BULELENG – Berbagai upaya adaptasi tatanan kehidupan era baru, dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng dalam masa Pandemi Covid-19. Seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) termasuk Dinas Pariwisata (Dispar) Buleleng juga telah membuat protokol adaptasi dengan tagline ‘The Spirit Of Sobean’.

“Upaya Pemkab Buleleng membumikan ‘The Spirit Of Sobean’ sudah semakin jelas. Mulai dari pemilihan buah lokal, kuliner, produk UMKM sampai pada penyiapan buku panduan untuk wisatawan yang nantinya berkunjung ke Kabupaten Buleleng,” tandas Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana, Sabtu (17/10/2020) pada acara pendokumentasian Jajanan Tradisional Khas Bali Utara di Rumah Intaran Desa Bengkala Kecamatan Kubutambahan.

Bupati Suradnyana menegaskan, kata sobean sudah diterjemahkan dengan sangat detail sekali. Melalui kurator, produk-produk terbaik seperti kuliner, hasil pertanian dan bangunan khas buleleng yang ada dimasing-masing kecamatan akan dipilih dan sedang dipetakan. “Setelah semua produk unggulan muncul dari masing-masing kecamatan, selanjutnya akan masuk ke dalam peta Kabupaten Buleleng. Ini untuk mempermudah mengetahui lokasi-lokasi produk unggulan The Spirit of Sobean yang ada,” jelasnya.

Melalui peta tersebut, para wisatawan yang ingin menikmati produk sobean atau terbaik dari Buleleng akan dengan mudah menemukan objek wisata yang diinginkan.”Nah kalau masuk misalnya 1.200, maka kita pilih menjadi 400. Nanti kami akan buat buku panduan sebagai petunjuk untuk pariwisata atau wisatawan,” terangnya.

Konsep ‘The spirit of Sobean’ tidak saja untuk produk kerajinan dan kuliner.”Konsep tersebut juga meliputi tempat maupun bangunan seperti pura dan tempat lainya yang memiliki ciri khas Buleleng,” ungkapnya.

Hal senada diungkapkan Gede Kresna selaku pemilik Rumah Intaran yang juga bertindak sebagai kurator. Menurutnya, penilaian produk yang dihasilkan masyarakat, baik berupa olahan kuliner  maupun kerajinan sudah memiliki parameter kurasi tersendiri. Seperti, untuk penilaian pangan tidak diperbolehkan menggunakan penyedap, pengawet maupun pewarna. Sementara produk kerajinan yang dihasilkan masyarakat parameternya adalah pada bahan dan kualitas serta kemasan.”Tapi yang paling penting adalah apa yang akan kita lakukan dengan apa yang sudah kita verifikasi sebagai sobean,” tegasnya.

Target dari konsep sobean adalah menjadikan Kabupaten Buleleng sebagai destinasi kunjungan dan destinasi pembelajaran bagi kabupaten/kota yang ada di Indonesia. “Buleleng memiliki segalanya. Sampai saat ini data yang  masuk sudah sampai 400. Tetapi kami masih menunggu sampai ada 700 titik yang akan masuk. Kemudian dari 700 itu kami akan kurasi lagi menjadi 400 sampai 500, dan itu akan dijadikan buku sebagai pegangan,” pungkasnya. (kar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here