Dinas Pariwisata Waspadai Episentrum Baru, Kedatangan Wisdom ke Bali Mencapai 17 Persen

0
40

Kadis Pariwisata Provinsi Bali I Putu Astawa

DENPASAR – Sejak Provinsi Bali membuka secara resmi kunjungan wisata domestik (Wisdom), secara perlahan-lahan pariwisata mulai menggeliat. Namun, Dinas Pariwisata Provinsi Bali tetap melakukan pengawasan ekstra bersama instanai terkait, sejak dibuka 31 Juli lalu. Jangan sampai adanya kelonggaran ini dan pariwisata yang mulai dibuka memunculkan efisentrum baru. Hal ini yang diwaspadai meski untuk saat ini masih dibatasi untuk kunjungan domestik dan kran kedatangan wisatawan asing rencana pada 11 September dan juga melihat situasi kondisi Covid-19.

Hal itu disampaikan Kadis Pariwisata Provinsi Bali Putu Astawa, saat dikonfirmasi Minggu (02/8/2020). Menurut Putu Astawa dengan dibukanya pariwisata Bali meaki masih terbatas untuk wisdom, Bali berkeinginan dan menumbuhkan kepercayaan wisatawan terhadap Bali. Terlebih lagi sampai saat ini penanganan Covid-19 di Bali menjadi yang terbaik secara nasional. “Kita menyakinkan kepada pasar, Bali terus bisa menumbuhkan kepercayaan pada wisatawan untuk bisa berlibur ke Bali pasca terpuruk dampak Covid-19, ” ujarnya.

Sejak kran wisata domestik di buka resmi oleh Gubernur Bali Wayan Koster, Kadis Pariwisata Putu Astawa menyebutkan, kedatangan wisdom sudah mencapai 17 persen. Prosentase tersebut dilihat dari kunjungan sejak 23 sampai 31 Juli lalu. Prosentase kunjungan wisdom ke Bali susah mencapai 17 perse dari 2.470 orang penumpang setiap harinya di bandara Ngurah Rai. Angka tersebut memang masih jauh dari harapan pengusaha hotel dan restauran di Bali. “Wisdom yang bisa berlibur ke Bali hanya wisatawan yang berduit dan mereka yang masih memiliki stok tabungan sejak pandemi, ” ujarnya.

Sasaran kadatangan wisatawan domestik yang datang ke Bali hampir merata dan itupun disesuaikan dengan karateristik wisatawan itu sendiri. Wisatawan milineal kebanyakan menyasar tempat menginap di Kuta dan sebagian ada di Nusa Dua. Namun ada juga yang menginap di Ubud dengan harga special yang didapat.

Kadis Pariwisata yang juga mantan Kepala Bappeda Bali ini menambahkan, untuk saat ini, kebanyakan pihak pemilik hotel berusaha untuk bisa bertahan akan kelangsungan usahanya dimasa pandemi Covid-19. Demikian juga masyarakat yang sudah sejak lama berdiam dirumah apalagi yang berduit tentu akan merasakan kehidupan dimasa pandemi. Mereka membutuhkan rekreasi menikmati libura akan tetapi mereka juga harus tetap memperhatikan protokol kesehatan kalau mau datang berwisata ke Bali.

Putu Astawa mengakui dari pemantauan dan pengawasan yang dilakukan sejak pariwisata di Bali dibuka resmi untuk domestik, pihaknya sangat dibantu oleh peran TNI dan Polri yang selalu inten untuk mensosialisasikan protokol kesehatan. Belum lagi keberadaan 1.493 desa adat di Bali juga sangat membantu melakukan pengawasan terlebih lagi adanya pararem gering agung di setiap desa adat sudah dilaksanakan. Sehingga obyek daerah tujuan wisata (ODTW) juga diawasi oleh desat adat. “Kita minta pada industri pariwisata dan desa adat untuk memperketat pengawasan, setiap wisatawan yang datang ke obyek tujuan wisata harus tetap memakai masker, jaga jarak dan rajin mencuci tangan, “pintanya.

Pihaknya berharap, dari pemantauan yang dilakukan di lapangan selama ini, benar-benar terus dapat melaksanakan standar protokol kesehatan yang telah ditetapkan. Dia mengakui dari segi peralatan sarana dan prasana penunjang penerapan protokol kesehatan yang disiapkan sudah sangat baik. Seperti halnya obyek-obyek wisata di pantai Kuta, hotel-hotel sangat bagus penerapan SOP protokol kesehatannya. “Pengelola obyek wisata dan pengusaha hotel benar-benar sudah menjalan SOP yang dianjurkan dan mereka benar-benar siap menyambut kedatangan pariwisata. Kita berharap gering agung Covid-19 segera bisa berakhir dan ekonomi Bali yang mengandalkan pariwisata terus biaa menggeliat, ” pungkasnya. (arn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here