
Jembatan Tukad Bangkung kerap dijadikan lokasi aksi bunuh diri.
MANGUPURA – Jembatan Tukad Bangkung, yang berada di perbatasan Desa Pelaga dan Desa Belok Sidan, Kecamatan Petang, kerap dijadikan lokasi aksi bunuh diri. Seperti yang terjadi Minggu (26/5/2024) sore, kakak beradik asal Desa Bontihing, Buleleng nekat mengakhiri hidupnya di Jembatan Tukad Bangkung.
Beberapa kasus bunuh diri lainnya juga sempat terjadi di jembatan tertinggi di Asia Tenggara tersebut. Untuk itulah Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Badung merencanakan, melakukan sejumlah upaya antisipasi agar kasus serupa tidak terulang.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Badung, Wayan Darma mengatakan, pihaknya memiliki sejumlah perencanaan seperti memasang jaring di sekitar area jembatan. Ada juga opsi untuk melakukan menempatkan petugas untuk melakukan pemantauan secara 24 jam di lokasi.
“Berkenaan dengan hal itu saya akan melaporkan kepada Bapak Bupati melalui Bapak Sekda. Barangkali pendapat tiyang (saya) secara pribadi adalah menggunakan jaring terlebih dahulu. Atau dengan menugaskan rekan-rekan 24 jam di sana untuk memantau keamanan,” ungkapnya saat dikonfirmasi, Senin (27/5/2024).
Untuk penjagaan ini, kata dia sebaiknya dilakukan minimal dua orang. Keduanya pun akan bertugas di ujung timur dan barat dari Jembatan Tukad Bangkung. “Karena jembatannya kan panjang juga, untuk meminimalisir hal-hal yang tidak kita inginkan,” katanya.
Ditambahkannya, secara niskala Pemkab Badung sempat melakukan Upacara Karipubaya Genah Karang Panes tahun 2021. Upacara ini sudah dilakukan akibat adanya kejadian ulah pati di jembatan tersebut. Dari catatannya telah terjadi tiga kali aksi bunuh diri di Jembatan Tukad Bangkung. Kejadian tersebut diakuinya dilakukan oleh seorang pria TNI dan seorang wanita, sebelum akhirnya kejadian kakak adik pada minggu sore. (lit,dha)








