
DENPASAR – Sebagai mitra dari pemerintah, PT BPR Kita Centradana (KCD) kembali melaksanakan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Pemasaran Digital Bagi Usaha Mikro di Kota Denpasar, Senin (28/8/2023). Kali ini, kegiatan dilaksanakan selama 3 hari, yakni hingga 30 Agustus 2023 mendatang.
Diklat tersebut dilaksanakan dalam upaya meningkatkan geliat perekonomian, khususnya di Kota Denpasar. Yakni demi Kota Denpasar yang ‘MAJU’ (Makmur, Aman, Jujur, dan Unggul), serta mewujudkan program #UMKMJUARA (Jaya, Unggul, Aktif, Responsif, dan Aplikatif).
Melalui kegiatan tersebut, 25 orang peserta dibekali dengan ilmu tentang pemasaran digital, yang pada era saat ini dirasa sangat diperlukan oleh para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Baik itu dengan memanfaatkan media sosial maupun e-commerce.
Ada beragam materi yang dipaparkan dalam pelaksanaan kegiatan tersebut. Mulai dari tentang pemodalan UMKM, mentalitas pelaku UMKM, perencanaan keuangan UMKM, digital marketing, kiat sukses ekspor, sharing dari pelaku UMKM yang sukses melakukan digital marketing, hingga pengiriman efektif bagi pelaku UMKM. Materi-materi bersangkutan dipaparkan oleh sejumlah narasumber, salah satunya dari KCD.
Direktur Utama KCD, Putu Antara mengungkapkan, pelaksanaan kegiatan tersebut notabene merupakan wujud kontribusi nyata pihaknya terhadap perkembangan UMKM. Yang tentunya, hal tersebut sejalan dengan visi misi KCD yaitu menjadi BPR yang berkontribusi bagi pembangunan ekonomi kerakyatan melalui pemberdayaan UMKM.
“Karena selama ini sering kita dengar, di satu sisi UMKM disebut sebagai salah satu pendukung perekonomian Bali ataupun nasional, namun di sisi lain disadari ada sejumlah kendala yang dialami para pelaku UMKM. Seperti kaitan dengan kemampuan dan akses permodalan,” sebutnya.
Berkenaan dengan hal itulah maka pihaknya melakukan sejumlah langkah nyata dalam pemberdayaan UMKM. Apalagi sangat disadari hubungan antara pihaknya dengan UMKM, adalah sebagai mitra.
“Kami secara reguler mengadakan pelatihan yang bernama Micro Business Game. Ini sangat menarik karena adalah model pelatihan yang interaktif, melibatkan semua peserta. Kurang lebih seperti permainan monopoli. Di sana mereka belajar bagaimana memulai proses bisnis dengan benar serta menghadapi tantangan-tantangan ke depan,” bebernya.
Mengutip penyampaian Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kota Denpasar, dia menyatakan bahwa konsistensi atau keberlanjutan merupakan PR dari pelaksanaan diklat UMKM. Karena disadari, dibutuhkan sebuah proses dalam pemberdayaan UMKM.
“Jadi tidak seperti makan cabai. Dan kita, tentu bersedia menemani untuk terus sharing bersama para pelaku UMKM dalam menjalani proses ini,” tegasnya.
Sementara terpisah, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kota Denpasar, I Dewa Made Agung mengatakan bahwa diklat tersebut notabene merupakan kegiatan kali kedua yang terselenggara atas kerja sama pihaknya dengan KCD. Dan dia berharap itu dapat berlanjut pada tahun-tahun berikutnya.
“Diklat seperti ini adalah investasi. Sama seperti kita kuliah, yang hasilnya tidaklah langsung kita nikmati di hari itu juga,” ucapnya.
Kalau dahulu, sambung dia, sering kali ada keluhan pelaku UMKM berkenaan dengan permodalan. Namun kini, hal semacam itu dirasa sudah sangat jarang atas dukungan lembaga-lembaga keuangan, termasuk KCD.
“Yang jadi masalah saat ini, adalah perubahan-perubahan di dunia usaha yang sangat luar biasa. Contoh, dahulu yang sudah memasuki platform digital di awal-awal mungkin menggunakan Facebook. Tetapi kemudian ada Instagram, dan sekarang TikTok. Oleh sebab itu, yang paling penting adalah segera melakukan adaptasi,” jelasnya.
Setelah mengikuti diklat bersangkutan, para peserta diharapkan tetap menjalin komunikasi antara satu sama lain. Termasuk dengan pihaknya di Dinas Koperasi dan UKM, serta KCD.
“Era sekarang adalah era kolaborasi. Jadi kita tidak bisa bekerja sendiri-sendiri lagi,” imbuhnya. (adi/jon)








