
DENPASAR– Dikenal sebagai seorang sastrawan Indonesia modern maupun Bali modern, sosok IDK Raka Kusuma telah berpulang di usianya 66 tahun, Sabtu,(5/7/2023) malam sekitar pukul 20.10 di RS Bali Med Karangasem.
IDK Raka Kusuma, adalah sosok sastrawan terbaik yang dimiliki Bali. Berbagai karya berupa puisi, cerpen, hingga esai miliknya menghiasi media massa sejak menjadi guru di sekolah dasar sekitar tahun 1980-an.
Kabar kepergiannya dibagikan oleh sang istri, Dewa Ayu Kusumadewi lewat akun facebook miliknya.“Kemarin msh ttp statusku, dan saat ini aku berada dlm kesendirian, tidurlah dg tenang damailah bersamaNya Idk Raka Kusuma,” tulisnya.
Pengarang sekaligus sahabat IDK Raka Kusuma, Komang Berata membenarkan, jika Raka Kusuma berpulang pada Sabtu malam.
“Saya dapat informasi dari keluarganya dini hari tadi sekitar pukul 01.00. Sangat-sangat kehilangan sosok guru dan sosok teman yang setia,” kata Komang Berata saat dihubungi, Minggu (6/7/2023).
Ia mengatakan sejak lama sudah bersama dalam dunia kepengarangan dengan IDK Raka Kusuma dan sama-sama menggarap majalah sastra Bali Modern Buratwangi.
Rasa kehilangan juga dirasakan oleh cerpenis dan wartawan senior Gde Aryantha Soethama.
Aryantha Soethama mengenang IDK Raka Kusuma sebagai sosok yang ulet, tekun dan serius dalam berkarya.
“Tahun 80-an saya sudah kenal dengan beliau dan sering ke Denpasar naik bus, turun di terminal Batubulan. Ke Denpasar naik bemo, dan pasti saya diajak ke toko buku,” kenang Aryantha Soethama.
Soethama mengatakan, Raka Kusuma tak hanya berkarya tapi juga menelorkan bibit-bibit baru penulis sastra.
“Tidak hanya menganjurkan membaca, tapi langsung memberikan buku. Juga memberikan rekomendasi pengarang dan buku yang dibaca. Bahkan ke pengarang senior juga kerap berbagi buku. Saya sering diberikan buku,” imbuhnya.
Dalam hal sastra Bali modern, sosok IDK Raka Kusuma dianggap sangat menguasai peta sastra Bali modern.
Sastrawan yang juga Perbekel Desa Kukuh, Marga Tabanan, I Made Sugianto juga menganggapnya sebagai guru.
“Pak Dewa Raka Kusuma tak sekadar penulis sastra, juga pemantik penulis muda untuk berkarya. Motivator bagi penulis pemula untuk berkarya menggunakan bahasa Bali,” kenangnya.
Di mata Sugianto, Raka Kusuma sosok yang rajin memantau penulis yang karyanya dimuat di media massa. Tak jarang menghubungi penulis untuk memberikan apresiasi sekaligus menuntun agar karya berikutnya semakin bagus.
“Terbukti banyak anak muda minta bimbingan beliau untuk berkarya. Pak Raka Kusuma penjaga api sastra Bali modern agar tetap menyala,” katanya.
Sementara itu, penyair I Wayan “Jengki” Sunarta mengatakan jika Raka Kusuma adalah murid kesayangan Umbu Landu Paranggi.
“Pak Raka adalah murid kesayangan Umbu. Umbu kalau ke Karangasem nginap di rumah Pak Raka. Semasa hidup, Pak Raka banyak memotivasi saya untuk tekun menulis puisi. Beliau sangat rajin memberikan informasi-informasi seputar sastra,” kata Jengki.
Ia juga mengatakan jika sosoknya sangat tekun dalam mendokumentasikan karya sastra, khususnya yang ditulis sastrawan Bali di berbagai media massa nasional atau koran luar.
“Pak Raka kerap kirim kliping koran ke saya, khususnya yang memuat karya saya. Waktu Beliau sakit parah sekitar 2 tahun lalu, Beliau masih sangat berkontribusi menyususun buku Umbu Beliau memberikan data kliping-kliping soal Umbu dalam kondisi sakit,” kata Jengki.
IDK Raka Kusuma memiliki nama lengkap I Dewa Nyoman Raka Kusuma kelahiran Getakan Klungkung, 21 November 1957.Meski lahir di Klungkung, ia menghabiskan waktu di Karangasem termasuk proses kreatifnya tumbuh di Karangasem.
Berbagai penghargaan telah ia raih seperti Hadiah Sastera Rancage 2002 dan 2011, Widya Pataka dari Gubernur Bali tahun 2012, Penghargaan Tantular dari Balai Bahasa Bali tahun 2019, hingga Bali Jani Nugraha pada tahun 2021. (sur,yan)








