
KUTSEL – Pengerjaan proyek Adaptasi Pantai Nusa Dua – Tanjung Benoa – Sanur menjadi bahan perbincangan warga Tanjung Benoa.
Mereka merasa kecewa, karena meski berbulan-bulan sudah dimulai, progres untuk wilayah Tanjung Benoa dirasa tidak signifikan, bahkan cenderung terkesan mangkrak.
Bendesa Adat Tanjung Benoa, I Made ‘Yonda’ Wijaya tidak memungkiri adanya bahasa-bahasa kekecewaan yang dilontarkan masyarakat tersebut. Bahkan bukan hanya warga, dirinya selaku bendesa juga merasakan hal serupa.
“Terus terang saya juga sangat kecewa. Sebenarnya, siapapun yang sudah memenangkan tender dari proyek ini semestinya tidak demikian. Semoga kondisi seperti ini tidak terjadi di proyek-proyek lainnya,” sebut Yonda yang juga Anggota DPRD Badung Dapil Kuta Selatan tersebut, Rabu (5/7/2023).
Tanjung Benoa, sambung Yonda, adalah sebuah kawasan wisata. Yang mana tentunya, ketika dilakukan proyek, pihak kontraktor pemenang tender haruslah tetap memperhatikan kenyamanan.
“Kalau memang dibongkar untuk dikerjakan, ya harusnya kerjakan dahulu sampai tuntas. Jangan dibongkar, kemudian ditinggalkan, dan tidak tahu kapan akan dilanjutkan,” sentil Yonda.
Balai Wilayah Sungai Bali Penida (BWSBP) diharapkan bisa menjadikan itu sebagai sebuah pembelajaran. Agar lebih selektif dalam menentukan pemenang tender, sehingga buruknya kualitas pelaksanaan tidak malah mempengaruhi citra baik BWSBP.
“Saya dan segenap masyarakat Tanjung Benoa sesungguhnya sangat berterimakasih dan antusias menyambut pelaksanaan proyek ini. Bahkan seperti yang sebelumnya saya sampaikan dalam rapat di Kantor Camat, semakin cepat itu dilaksanakan, maka semakin bagus. Tapi nyatanya di lapangan, sangat mengecewakan,” sebutnya.
Dipantau di sejumlah titik proyek pada Rabu (5/7/2023), aktivitas pelaksanaan proyek hanya terlihat pada area penitipan pasir sementara. Sedangkan pada titik-titik lainnya, sama sekali tidak ada kegiatan.
Seperti pada area dalam Pura Prajapati Desa Adat Tanjung Benoa yang paving lamanya sudah dibongkar namun belum diganti total dengan paving baru; area parkir (selatan Pura Prajapati) yang bekas bongkarannya masih terlihat menganga.
Balai Kelompok Nelayan Segara Ning dan Segara Hyu yang baru dibangun pondasinya; serta Balai Kelompok Nelayan Mina Wisata Bahari yang kabarnya sudah berbulan-bulan belum dilanjutkan dengan pengerjaan pemasangan atap. (adi/jon)








