
BADUNG – Dana bantuan yang diterima KONI Bali dari Pemprov untuk kepentingan cabang olahraga (cabor) dibawahnya hanya Rp 4,5 miliar dinilai sangat memprihatinkan.
Bahkan cabor bisa jadi akan ‘berkorban’ untuk menutupi pengiriman atlet ke pra-PON nantinya. Kecuali memang ada kepastian cabor sifatnya menalangi kekurangan dan dikembalikan oleh KONI Bali. Ketika mendapat bantuan tambahan di anggaran perubahan nantinya.
Rasa prihatin itu diutarakan Ketua Umum KONI Bali Made Nariana. Bahkan jika jumlah dana pra-PON memang jumlahnya seperti itu KONI Bali akan kesulitan membagi ke cabor dan terkesan tidak akan cukup cabor mengikuti pra-PON dengan pembagian dana tersebut.
“Kalau memang benar sejumlah tersebut dana yang diterima KONI Bali untuk pra-PON, jelas sangat memprihatinkan sekali. Bagaimana cabor akan bisa mengikuti pra-PON jika anggaran tersebut dibagi untuk cabor dibawah KONI Bali yang turut pra-PON. Apalagi saya dengar jumlah cabor yang dipertandingkan jumlahnya lebih banyak disbanding dengan PON XX/2021 di Papua silam,” tutur Made Nariana di Badung, Minggu (28/5/2023).
Lantas apakah ini tandanya cabor harus menutupi jika dana yang diterima tidak cukup untuk ikut pra-PON?
“Janganlah sampai cabor harus menutupi kekurangan itu. Kan kasihan pengurus cabor yang sudah merelakan untuk mengurus tapi masih harus dibebani lagi dengan menutupi kekurangan biaya ke pra-PON. Ini sangat memprihatinkan sekali,” tambah mantan Ketua Umum KONI Bali itu.
Ya, yang diutarakan Made Nariana itu memang sangat realistis. Apalagi cabor sendiri juga pastinya menyiapkan para atletnya menuju pra-PON, dan pastinya itu juga mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.
“Kalau harapan saya para atlet cabor yang membawa nama Bali dipra-PON nantinya tetap semangat dan tetap berupaya dan bekerja keras dengan melakoni latihan rutin. Utamanya tetap semangat berlatih dan semangat menatap pra-PON,” pungkas Made Nariana. (ari/jon)








