
DENPASAR – Kalender even tahunan baik itu Kejuaraan Nasional (Kejurnas) atau Sirkuit Nasional (Sirnas) termasuk even nasional lainnya tahun ini hangus atau tak bisa digelar. Hal ini setelah ada keputusan PB PBSI setelah melihat kondisi pandemi sekarang ini secara nasional, belum menunjukkan perubahan bagus atau penurunan.
Ketua Umum Pengprov PBSI Bali Wayan Winurjaya mengatakan, PB PBSI memang telah mengumumkan, kalender even nasional untuk tahun 2020 ditunda gelarannya di tahun 2021. Pastinya itu juga berdampak pada rencana Sirnas di Bali Oktober mendatang juga gagal digelar. “PB PBSI telah mengumumkan semua itu, ya itu artinya tidak akan ada even nasional selama tahun ini serta Bali ya sementara batal menjadi tuan rumah sirnas. Hanya untuk kalender internasional seperti Uber dan Thomas Cup akan tetap digelar dengan pastinya protokol kesehatan dilakukan dengan ketat,” ungkap Winurjaya saat dihubungi, Kamis (13/8/2020).
Dikatakan, kegiatan secara nasional juga berhenti kecuali Pelatihan Nasional (Pelatnas) tetap berjalan untuk menghadapi even-even internasional di tahun ini. “Kegiatan semuanya terhenti, itu kan terlihat klub-klub bulutangkis besar di Indonesia memulangkan semua pebulutangkisnya ke daerah masing-masing. Sekali lagi kegiatan hanya berjalan untuk Pelatnas saja,” imbuh Winurjaya.
Jika level kegiatan termasuk klub besar terhenti lanjutnya, di daerah dalam hal ini provinsi juga pasti menjadi kendala tersendiri. Bahkan latihan yang dilakukan para pebulutangkis putra dan putri PON Bali hanya sebatas latihan mandiri saja dan itu untuk fisik seperti yang dianjurkan KONI Bali. “Mau tidak mau ya program latihan hanya latihan mandiri mengikuti aturan KONI Bali,” katanya.
Awal tahun depan atau secepatnya jika pandemi menurun drastis di Bali maka Desember baru bisa menjalakan program. Itupun juga akan lebih memprioritaskan recovery kebugaran saja dulu. Pasalnya, untuk teknik akan dilakukan setelah fisik terbentuk. “Kalau untuk recovery fisik maksimal jika digembleng rutin akan Kembali dirasakan seperti sebelumnya oleh atlet PON Bali dalam waktu tiga bulan. Kalau teknik kan mereka sudah memiliki tinggal mengasah dan menajamkan saja,” pungkas Winurjaya. (ari)








