
DENPASAR – Seniman yang menggeluti seni rupa patung di Bali mulai bergeliat dan patut diapresiasi karena masih memiliki akar tradisi yang kuat untuk melahirkan sebuah karya seni kebaruan.
“Salut dan bangga seni patung tidak pernah mati, apalagi sekarang banyak ikon-ikon patung bermunculan di sejumlah tempat setrategis yang mendukung sebuah destinasi atau perwajahan perkotaan di Bali,” kata akademisi ISI Denpasar, Dr. I Ketut Muka Pendet, Minggu (15/1/2023) .
Di balik kebanggaanya itu, Ketut Muka Pendet memberi beberapa catatan. Menurutnya, bidang seni rupa ke depannya harus mampu tampil beda, baik dari segi konsep maupun visual, ide, serta gagasan.
”Tetapi, tetap berangkat dari tradisi. Kalau membaca peminat (pasar), sekarang ini banyak orang yang ingin patung yang baru, walau dari segi teknik dan bahan itu sama, tetapi ada suatu kebaharuan yang muncul,”ujar Muka Pendet yang menjabat Wakil Rektor Bidang ADM, Umum, Keuangan dan Kepegawaian ISI Denpasar ini.
beberapa catatan yang diungkapkan Ketut Muka Pendet yang juga menegaskan, .kata pria asal Banjar Nyuh Kuning, Desa Mas Ubud , Gianyar.
Seniman batu padas kelahiran 31 Desember 1961 ini mencontohkan perkembangan patung-patung untuk dekor saat ini luar biasa, sangat laris baik secara lokal maupun nasional.
Misalnya, patung di Mas, Ubud, Gianyar, ada inovasi pergeseran dari bahan kayu ke batu padas. Dahulunya dari kayu sekarang berbahan padas sehingga laku keras.
Kalau kita bergerak di dunia seni harus mampu seperti itu. Selain itu, kita juga harus mampu membuat terobosan. Misalnya, penggalian yang ada hubungan dengan alam recycle (daur ulang) itu luar biasa untuk isu lingkungan, disamping kita sadar akan lingkungan. Kalau mampu berinovasi membuat karya cipta recycle itu baik dari kayu dan plastik, yakin banyak peminatnya,”ungkap seniman asal Banjar Nyuh Kuning, Desa Mas Ubud ini.
Terkait beberapa patung menghiasi beberapa sudut kota yang disinyalir dari luar Bali, ia menyebut produk itu kebijakan yang harus dikaji dan dipikirkan ulang.
Padahal, dalam urusan berkesenian membuat patung, Bali tak ada yang mengalahkan.
“Kenapa harus mencari keluar itu kan sedikit keliru. Dari segi perencanaan konsep mesti seimbang, jangan pondasi besar patung kecil atau jalan kecil patung besar, nah ini yang membuat patung itu menjadi lucu,” sentilnya.
Pada Juni 2023, Muka Pendet akan melakukan pameran terakota di museum Puri lukisan, Ubud bersama dosen ISI Denpasar.
“Dalam bentuk patung yang tampil beda, kita membuat 40 karya pameran di museum Puri Lukisan Ubud. Sekarang sedang digarap, ide itu muncul ketika di kampus membuat terakota setinggi 7 meter, Itu ide saya,” ujar ayah tiga anak itu.
Selain sibuk dengan urusan kampus, Muka Pendet tetap berkarya di studionya. Yaitu Studio Muka Pendet yang ada di belakang rumah di Banjar Nyuh Kuning.
Selain tempat melukis studionya itu juga menjadi tempat membuat patung dan keramik.
“Ini sebagai antisipasi kedepannya karena melihat keramik itu cukup memberikan angin segar dari segi transaksi. Ini transaksi dengan turis wisatawan yang sedang berada di Desa Nyuh Kuning saja berjalan lumayan, sehingga buka studio keramik dijalani untuk menutupi keuangan dapur, selain memang tetap berkarya seni patung ,” tandasnya.(sur)








