
BULELENG – Ada yang menarik pada workshop Buleleng Education Expose (BEE) yang digelar SMP Negeri 1 Singaraja serangkaian HUT Ke-62 tahun 2020. Selain hangatnya diskusi tentang pentingnya informasi dan data tentang pencegahan, penanganan serta pengendalian virus corona bagi masyarakat, untuk dapat beradaptasi dalam Pendemi Covid-19, peserta juga bertanya tentang ‘New Normal’. Istilah yang kerap diartikan sudah normal dan bebas oleh sebagian masyarakat tersebut, dijawab lugas ‘Kolaburasi’.
“Dalam Tatanan Kehidupan Baru, sebagai upaya beradaptasi dengan Covid-19, harus dilakukan dengan kolaburasi. Saling membantu, mendukung serta menunjang satu sama lain, sehingga bisa bersama-sama bergerak maju untuk kembali beraktifitas, memulihkan perekonomian ditengan Pandemi Covid-19,” tandas Sekda Buleleng Gede Suyasa, Senin (03/8/2020) saat membuka Workshop di SMP Negeri 1 Singaraja.
Kolaburasi, kata Suyasa yang juga Sekretaris Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19, tidak hanya harus dilakukan pada sektor pendidikan yang terbiasa dengan pola kompetisi, tapi juga disemua sektor kehidupan. “Dalam menghadapi Pendemi Covid-19, pola maupun jiwa kompetitif harus dikesampingkan, sehingga apapun yang dilakukan akan lebih fokus, terarah, terukur dan terkoordinasi. Dengan berkolaborasi, sebagaimana dilakukan pengelola aplikasi digital, semua bisa terwujud dan mencapai sasaran. Karena, saling melengkapi kekurangan dan mendukung kelebihan untuk mencapai tujuan,” tegasnya.
Kalau masih berpola kompetisi, yang ada hanya saling menjatuhkan dan semua akan berjatuhan. “Kolaborasi merupakan bentuk lain tatanan kehidupan baru, disamping penerapan protokol kesehatan sebagai upaya adaptasi dengan Covid’ 19 sehingga bisa kembali beraktifitas dan produktif, namun aman dari penularan Covid-19 yang hingga saat ini belum ada obat maupun aksinya,” tandas Suyasa terkait ‘New Normal’. (kar)








