
BADUNG – Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Pengurus Daerah (Pengda) Bali mengelar pelatihan video jurnalistik di salah satu hotel di Kuta, Jumat (23/9/2022).
Kegiatan menggandeng instansi pemerintahan, kejaksaan, kepolisian, dan wartawan itu, mengusung tema ‘Pelatihan Video Jurnalistik Menyongsong Digitalisasi dan Keterbukaan Informasi Publik’.
Pelatihan berjalan lancar dan penuh semangat. Tercermin dari antusiasme puluhan peserta menyimak materi yang dipaparkan dua orang narasumber, I Gde Nyoman Suryawan dan Sigit Purwono.
“Kami saling belajar berbagi ilmu untuk video jurnalistik dan digitalisasi. Para peserta dapat mengabadikan setiap momentum, tidak saja di sosial media, tetapi juga di masing-masing instansi,”kata Ketua IJTI Pengda Bali, Ananda Bagus Satria.
Sementara, narasumber I Gde Nyoman Suryawan mengatakan, umumnya wartawan memperoleh informasi dan data, tapi saat menuangkan ke dalam bentuk tulisan masih banyak yang bingung.
“Jadi, di dalam menyiapkan rilis atau berita harus disiapkan fakta dan data poin-poin penting yang ingin kita sampaikan ke masyarakat. Akurasi dan kelengkapan rilis atau berita bila perlu dilakukan wawancara dengan narasumber atau pejabat yang berkompeten,” ucap Suryawan yang merupakan mantan Direktur Pemberitaan salah satu TV swasta ini.
Selanjutnya, narasumber Sigit Purwono yang juga pemilik Raturu TV pada kesempatan itu lebih banyak memaparkan proses pengambilan video dalam kaidah jurnalistik, yaitu menampilkan berita atau gambar faktual, aktual, real, dan speed baru.
Sembari memaparkan materi, Sigit juga menayangkan video hasil karyanya agar dapat dengan mudah dipahami oleh peserta.
Menurutnya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengambilan video, yaitu point of interest, focus (no excuse), normal terang (tidak over expose atau under expose), arah sumber cahaya (key light, back light), dan memperhatikan properti di sekitar lokasi.
“Kalau kita memperoleh gambar tidak boleh cepat men-share. Inilah pentingnya menjaga diri, di mana kita harusnya menerima yang benar atau A1. Perhatikan dulu benar atau tidak gambar terkait,” terang Sigit, yang juga Freelance Fixer Ch 7 Australia dan Freelance Fixer Ruptly German ini.
Hal lainnya, seni dalam mengambil video kiriman harus pula detail, lengkap, dan variatif, harus jeli dan tidak malas bergerak.
Tidak kalah pentingnya, kata Sigit, perlu diperhatikan kualitas video dan audio hasil shooting kurang sesuai standar, seperti tanpa menggunakan tripod, banyak pergerakan, audio tanpa mic atau atmos. Ada pula kualitas video yang dikirimkan resolusinya kecil melalui WhatsApp HP, pengambilan wawancara dan posisinya kurang tepat.
“Studi kasus seperti kebutuhan gambar tidak saja long shot, tapi ada wide, ada fokus yang bicara, dan lainnya. Camera video (dalam posisi auto) mencari objek atau fokus yang terang. Hal penting lainnya, jangan takut bereksperimen, tidak ada orang ditangkap atau dipenjara karena salah mengambil gambar,” paparnya.
Para peserta tak hanya dibekali ilmu video jurnalistik, tapi juga praktik langsung ke lapangan. Hasil evaluasi, Sigit Purwono menilai para peserta sudah cukup baik. (dum)








