
ANCAMAN terhadap ‘kiamat’ peluang kerja baru pascapandemi Covid-19 memang dirasakan di berbagai belahan dunia saat ini. Terlebih, tenaga kerja di Bali yang hanya mengandalkan sektor pariwisata.
Meski pandemi belum berakhir, pariwisata di Pulau Dewata berangsur-angsur mulai pulih. Namun, peluang angkatan kerja baru masih dirasakan sulit.
Pentingnya data dalam mengukur pembangunan Bali, maka membaca data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali menjadi pilar pertama sebelum mengambil kebijakan atau keputusan.
Data resmi BPS secara khusus tentang ketenagakerjaan 2022 menyebutkan ada sedikit pertumbuhan akan kebutuhan angkatan kerja baru dibanding tahun 2021. Namun, tingkat pengangguran terbuka masih tinggi dibandingkan sebelum pandemi.
Data BPS Provinsi Bali yang dirilis pada 9 Mei 2022 mencatat angkatan kerja di Bali 2,68 juta orang pada Februari 2022. Jumlah ini meningkat 116,41 ribu orang dibandingkan Februari 2021.
Pada periode yang sama, TPAK juga mengalami kenaikan 3,43% poin menjadi 77,14% pada Februari 2022. Tingkat pengangguran terbuka (TPT) Februari 2022 sebesar 4,84%, turun 0,58% poin dibandingkan Februari 2021.
Kepala BPS Provinsi Bali Hanif Yahya saat dikonfirmasi, Selasa (20/9/2022) menegaskan, tingkat pengangguran masih tergolong tinggi jika dibandingkan TPT Bali sebelum masa pandemi Covid-19, yaitu pada Februari 2020 yang tercatat 1,25%.
Hanif Yahya menambahkan, penduduk yang bekerja pada Februari 2022 tercatat 2,55 juta orang, meningkat 125,77 ribu orang dibandingkan kondisi Februari 2021.
Lapangan pekerjaan yang mengalami peningkatan persentase terbesar dibandingkan dengan Februari 2021 adalah sektor industri pengolahan (2,76% poin). Sedangkan sektor yang mengalami penurunan terbesar, yaitu transportasi dan pergudangan (-1,54% poin).
Sebanyak 1,5 juta orang (58,89%) bekerja pada kegiatan informal, meningkat 2,82% poin dibanding Februari 2021. Dibandingkan dengan Februari 2021, persentase setengah penganggur naik sebesar 0,89% poin,. Sementara persentase pekerja paruh waktu turun sebesar 5,96% poin.
Terdapat 405,55 ribu orang (11,66%) penduduk usia kerja yang terdampak Covid -19 di Bali, terdiri dari pengangguran karena Covid-19 (35,81 ribu orang), bukan angkatan kerja (BAK) karena Covid-19 (27,57 ribu orang). Sedangkan tidak bekerja karena Covid-19 (24,30 ribu orang), dan penduduk bekerja yang mengalami pengurangan jam kerja karena Covid-19 (317,87 ribu orang).
“2022 BPS baru merilis data ketenagakerjaan pada Mei 2022. Sedangkan untuk data Agustus masih dalam pengolahan dan akan dirilis pada November 2022 mendatang,” ungkap Hanif Yaya.
Membaca data BPS Provinsi Bali tersebut, pemkab/kota di Bali berupaya mencari solusi untuk menekan angka pengangguran. Terlebih, korban pemutusan hubungan kerja (PHK) yang dialami sebagian pekerja terutama di Kota Denpasar tak terelakan. Sebagai pusat kota metropolitan, Denpasar memiliki beban yang cukup berat dalam mengatasi tingkat pengangguran.
Data Dinas Tenaga Kerja dan Sertifikasi Kompetensi Kota Denpasar menyebutkan, saat pandemi Covid-19 pada Agustus 2021 Denpasar mengalami tingkat pengangguran terbuka tertinggi di Bali yaitu mencapai 7,6%, naik tiga kali lipat dari tahun sebelumnya yang rata-rata mencapai 2,5%.
Wali Kota Denpasar IGN Jaya Negara mengakui pandemi berdampak terhadap tingginya pengangguran khususnya di Kota Denpasar, dari rata-rata 2,5% menjadi 7,6%.
Dalam kondisi sekarang ini, Jaya Negara meyakinkan tingkat pengangguran di Kota Denpasar mulai sedikit mengalami pemulihan dari tahun sebelumnya, kendati pergeserannya masih kecil yaitu turun 7,46%.
“Dengan pertumbuhan ekonomi saat ini mulai merangkak sebesar 3% dari sebelumnya, kita mengalami kontraksi minus 9%. Artinya, minimal kita berharap diikuti dengan meningkatnya jumlah lowongan pekerjaan, sehingga kita berharap menurunnya jumlah pengangguran minimal 5%,” kata Jaya Negara di sela-sela pembukaan Denpasar Job Fair 2022 di Gedung Dharma Alaya Lumintang, Denpasar, Selasa (20/9/2022).
Melalui Job Fair, Jaya Negara berharap salah satu usaha bisa menurunkan tingkat pengangguran di Kota Denpasar. Ia menyebutkan, Job Fair ini menyediakan 6.000 lowongan pekerjaan yang diikuti oleh 30 perusahaan dalam dan luar negeri dari sektor pariwisata, kesehatan, perdagangan, dan lain-lain. Upaya lain, Jaya Negara membeberkan kiat Kota Denpasar memberi kesempatan untuk menggerakkan ekonomi kreatif di Kota Denpasar.
“Kita memberi seluas-luasnya kreativitas kepada warga masyarakat, seperti kegiatan Denpasar Festival, Dyouth Festival dengan berbagai kegiatan seni, budaya, kuliner, UKM dan sebagainya hadir di berbagai even tersebut,” ungkapnya.
Menurutnya, melalui festival, ruang terbuka bagi para insan kreatif di Denpasar berkarya, berkesenian yang awalnya tidak ada pekerjaan, melalui event tersebut bisa diberi kesempatan tampil. Sanggar, kelompok seni, pegiat teater bisa manggung, sehingga ada pendapatan bagi warga masyarakat.
“Peluang festival melalui olah inovasi dan kreativitas budaya dan seni juga membantu warga kita yang dulunya kehilangan pekerjaan, paling tidak ada pendapatan tambahan bagi ekonomi keluarga mereka,” terang Jaya Negara.
Ia menambahkan, kerja sama pariwisata yang telah disepakati antara Pemkot Denpasar dan Pemkot Darwin (Australia) juga memberi peluang membuka lowongan kerja perusahaan khususnya sektor pariwisata di Kota Darwin guna memenuhi kekurangan tenaga kerja di kota tersebut.
“Keberadaan hotel di Kota Darwin yang kekurangan tenaga kerja akan menjadi peluang untuk banyaknya tenaga kerja pariwisata yang kita miliki di Kota Denpasar,” katanya.
Jaya Negara mengaku optimis dan berharap dengan adanya Job Fair ini dapat mengentaskan atau setidaknya menjadi solusi dalam penyediaan lapangan kerja sehingga dapat mengurangi masalah pengangguran di Denpasar dan menjadi salah satu upaya untuk menekan tingkat inflasi di Kota Denpasar.
Dalam kegiatan Job Fair yang digelar selama dua hari, 20-21 September 2022, terlihat antusias para pencari kerja mendatangi stand -stand yang disediakan sejumlah perusahaan.
“Sekarang saya kembali mencari peruntungan di tengah sulitnya mencari pekerjaan saat ini. Semoga saja saya mendapat kesempatan mendapat pekerjaan sesuai di sini,” harap Jonathan, calon pekerja pariwisata yang tinggal di Denpasar. (I Putu Suryadi)








