
KLUNGKUNG- Wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) pada ternak sapi berimbas pada omset penjualan kambing di Kabupaten Klungkung.
Menjelang Hari Raya Idul Adha, penjualan kambing turun drastis alias lesu. Itu dialami oleh salah seorang penjual kambing, Anak Agung Oka.
“Penjualan kambing sekarang lesu, sepi sekali yang beli kambing,” ujar Agung Oka, Jumat (7/7/2022).
Padahal beberapa hari jelang Idul Adha, biasanya Agung Oka mampu menjual sekitar 300 sampai 400 ekor kambing. Namun saat ini, sejak beberapa hari lalu sampai Jumat pagi, Agung Oka hanya mampu menjual 130 ekor kambing.
“Biasanya kalau Idul Adha, kambing saya tersisa cuma 5 atau ekor. Kalau sekarang masih banyak sekali,” ujarnya.
Ia memperkirakan, lesunya penjualan kambing ini merupakan imbas langsung dari munculnya kasus PMK di Bali. Padahal yang terkonfirmasi positif merupakan ternak sapi.
Selain penjualan yang sepi, harga kambing di Bali juga saat ini sangat mahal. Ini juga dampak dari tidak adanya pasokan kambing dari wilayah Jawa, akibat kebijakan pengetatan lalu lintas ternak pasca mewabahnya virus PMK.
Sehingga saat ini Agung Oka hanya mengandalkan pasokan kambing lokal dari wilayah Karangasem dan Kintamani, Bangli.
“Harganya juga jadi mahal. Kalau kambing ukuran besar yang sebelumnya 3 juta per ekor, sekarang bisa 3,5 juta sampai 3,7 juta per ekor,” ungkap Agung Oka.
Agung Oka mengaku rutin melakukan penyemprotan disinfektan di kandangnya. Untuk mencegah masuknya PMK. (yan)








