
JEMBRANA – Kepala Balai Taman Nasional Bali Barat (TNBB) Agus Ngurah Krisna kembali mengimbau masyarakat untuk tidak memberikan makanan kepada satwa, baik di kawasan konservasi maupun di perlintasan Jalan Raya Cekik, Gilimanuk.
“Satwa termasuk kera di kawasan Taman Nasional Bali Barat sudah mendapat pakan alami di hutan. Dari dulu kami sudah selalu mengingatkan dan melarang pengunjung memberi makanan,”ujar Agus Ngurah Krisna belum lama ini.
Menurutnya, pemberian makanan bisa berdampak pada perilaku satwa seperti berubah agresif dan juga ketergantungan kepada manusia.
“Dicontohkan seperti monyet akan masuk ke rumah-rumah penduduk, atau berperilaku menunggu orang di jalanan padahal di hutan makanan tersedia secara alami,”ungkapnya.
Bahkan, kata Agus Ngurah Krisna, ada kekhawatiran menularkan penyakit zoonosis dari manusia ke satwa maupun sebaliknya.
“Memberikan makanan satwa di jalan juga bisa membahayakan keselamatan pengguna jalan termasuk keselamatan satwa. Alam sudah membatasi populasi satwa secara alami di Taman Nasional ini. Umumnya, satwa berbiak di musim hujan karena ketersediaan pakan melimpah,”jelasnya.
Agus Krisna menyebut ada tiga hal yang menjadi sasaran pengelolaan TNBB, yaitu perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan tumbuhan satwa liar, dan pemanfaatan secara berkelajutan sumber daya alam hutan.
“Khusus untuk pengawetan satwa, Taman Nasional melaksanakan pembinaan populasi satwa seperti burung Curik Bali, pembinaan habitat seperti penanaman pohon, pengendalian tumbuhan invasif dan pembuatan bak satwa dan juga dilakukan kegiatan monitoring,”tandasnya. (ara)








