
DENPASAR – Tidak peduli dengan kondisi persaingan yang sangat ketat di nomor lari 200 meter dan 400 meter, salah seorang pelari PON andalan Bali, Dewi Ayu Agung Kurniayanti tetap konsisten akan menjaga emas di nomor perorangan 400 meter yang diraih pada pra-PON silam, pada PON XX/2020 yang digelar tahun 2021 di Papua, awal Oktober mendatang.
“Modal percaya diri, hajar dan tampil mati-matian di PON Papua nanti akan menjadi senjata saya,” kata Kurniayanti itu, Rabu 8 September 2021.
Lantas kenapa di nomor 200 meter pada pra-PON hanya meraih perunggu? Diakuinya, jika saat itu dirinya memang lebih fokus dengan emas 400 meter karena untuk mengejar saat tampil di SEA Games 2019.
“Saat itu saya lebih konsentrasi di even internasional itu sebagai penghuni pelatnas. Hasilnya saya saat itu masih di peringkat 5 besar,” paparnya.
Nantinya di PON Papua Agung Krisnayanti masih buta dengan progress para rivalnya namun dirinya ingin memberikan yang terbaik dengan hasil maksimal. Intinya secara umum dirinya ingin meraih hasil lebih baik dibanding saat di PON XIX/2016 di Jawa Barat silam dimana saat itu Kurniayanti menyabet total1 perak dan 2 perunggu.
Menyoal rival, dirinya masih berpatokan terhadap rival di pra-PON lalu yakni di nomor 200 meter yakni peraih emas pelari Maluku tak lain Alvin serta peraih perak Tyas Murtiingsih dari Jawa Barat.
Sedangkan di nomor 400 meter adalah peraih perunggu pra-PON lalu yakniSri Mayasari dari Sumatera Selatan (Sumsel) dan peraih perunggu, Eka Cahaya (Jawa Timur).
Hanya saja, selama latihan di Bali termasuk saat melakoni TC Sentralisasi lintasan lari yang dijadikan latihan di Lapangan Mengwi, Badung kurang layak karena dengan dasar gravel.
“Kalau di PON Papua nanti pastinya dasar lintasan dari bahan tartan. Tapi ada kelebihannya kalau latihan di gravel agak berat maka saat bertanding di PON nanti dengan dasar tartan maka akan lebih cepat larinya,” tutup Kurniayanti. (ari)








