
BADUNG – Menyandang status mahasiswi tak membuat Ni Putu Eka Dharmayanti gengsi berjualan. Semangat mengais rezeki di tengah pandemi nyata terlihat dari kedua tangannya yang cekatan mengipas sate babi di atas arang.
“Saya sering ditanya, apakah tidak gengsi atau malu (jualan sate babi) ?. Bagi saya, yang penting tidak merugikan orang lain. Buat apa gengsi, kalau ujung-ujungnya dompet tidak isi,” ucap mahasiswi D1 jurusan Tata Boga Balai Pendidikan Pelatihan Perhotelan dan Pariwisata (Bapppepar) Nusa Dua ini.
Sebelum pandemi, Iluh–sapaan akrab Eka Dharmayanti, menjadi pekerja paruh waktu (daily worker) pada sejumlah hotel berbintang di wilayah Kuta Selatan. Kini, gadis kelahiran Jimbaran 25 Mei 2001 itu bergelut dengan tusuk sate dan asap demi bertahan hidup di tengah lesunya pariwisata.
“Karena Corona, hotel-hotel tidak butuh tenaga DW (daily worker). Saya bantu bibi jualan sate babi,” ucap gadis yang buka lapak sate babi di sekitar Pasar Taman Griya, Jimbaran.
Pulihnya pariwisata tetap menjadi harapannya. “Saya lihat di berita mudah-mudahan pariwisata dibuka kembali pada Juli nanti supaya ekonomi pulih kembali,” harapnya. (adi)








