
DENPASAR – Sektor pariwisata di Bali memiliki titik lemah dan itu telah terbukti berbagai pengalaman seperti isu penyakit, bom Bali dan sekarang pang paling terpuruk sejak pandemi Covid-19 yang berkepanjangan. Dampak paling besar adalah sektor pariwisata yang membuat semua sendi perekonomian benar-benar terpukul dan bahkan membuat kontraksi (pertumbuhan ekonomi yang terbalik) hingga sampai minus 12 persen. Inilah rawannya struktur ekonomi Bali sehingga mesti ada keseimbangan ekonomi yang sehat dan bermanfaat untuk kesejahteraan masyarakat Bali.
Wakil Ketua DPRD Bali Sugawa Korry mengatakan, sektor primer, skunder dan tersier sebelum pandemi Covid-19, ketiga sektoral ini berhasil dikembangkan bahkan pertumbuhan ekonomi Bali selalu diatas rata rata pertumbuhan ekonomi nasional. Bahkan kalau diukur dari berbagai indikator sangat baik, seperti indikator dari indek pembangunan manusia, angka pengangguran juga semakin kecil.
“Diukur dari segala indikator sebelum pandemi dari segala hal Bali selalu diatas rata-rata nasional,” ujarnya saat menerima Petisi 45 dari Komunitas Cinta Pertanian Indonesia (Kita) yang melibatkan banyak tokoh di ruang rapat Gabungan DPRD Bali, Senin 26 April 2021.
Sugawa Korry mengatakan, sejak pandemi Covid-19, Bali kontrkasi 12 persen. “Kalau diibarat penyakit, ada deabet dan telah terjadi komplikasi yang sangat parah dan sekarang mengalami gangguan ke sektor lain,” imbuhnya.
Sementara Ketua Petisi 45 Komunitas Cinta Pertanian Indobesia Nyoman Baskara menyampaikan keprihatinan terhadap pertanian dan perkembangan ekonomi Bali memiliki semangat perjuangan yang sama bersama tokoh-tokoh Bali untuk memajukan pertanian. Baskara mengatakan dalam perjuangannya mengangkat harkat dan martabat kemiskinan petani. Perjuangan inipun sudah disampaikan mulai dari MPR, DPR, DPD, Presiden disampaikan 29 Maret lalu dan saat ini ke DPRD di Bali dan Gubernur Bali.
Baskara mengatakan, selama ini yang terjadi di Bali, kita selalu meminakbobokan pariwisata dan mengabaikan sektor pariwisata. Padahal sangat salah besar, kalau mengabaikan sektor pertanian. Padahal kalau terjadi bencana, sektor pariwisata selalu kalang kabut. “Betapa sensitifnya pariwisata kalau berhadapan dengan pandemi, Bali paling terpuruk pertumbuhan semua sektor terpuruk. Olehkarenanya, menurut Baskara semua pihak perlu duduk bersama untuk memikirkannya dan perlu gagasan yang operasional, gerakan yang nyata dan tidak melayang-layang.
Sementara tokoh pertanian Bali, Prof.Dr.Ir. Wayan Windia pertanian sangat penting dibangun, maka keberadaan Subak di Bali yang harus diperkuat dan direvitalisasi. Ketika pola pikiran itu dikembangkan untuk sungguh-sungguh sehingga perlu adanya revisi Perda Subak 9 tahun 2012.
Dalam resvisi tersebut dalam definisinya seharusnya memuat element eksistensi Subak di Bali. Petani, sawah, pura subak, air batas hidrologis harus disebutkan otonomi pada kawasan kewenangan Subak. Sehingga tidak akan dikupasi oleh desa adat. Sebab, kegiatan pertanian selama ini terkadang diklaim milik desa adat.
Sementara Prof. Sudibia menyampaikan Pandemi Covid-19 telah merubah segalanya sehingga penguasan di Bali harus segera mengambil kebijakan untuk menyelematkan ekonomi Bali. Sudibia mengatakan sebelumnya sektor jasa pariwisata yang menjadi lokomotif ekonomi di Bali dan berkepanjangan. Namun sekarang kemakmuran manusia bukan hanya di Bali tetapi secara glibal telah dilenyapkan oleh pandemi Covid-19. Bahkan negara Singapura terjadi minus sampai 42,5 persen. Fakta menunjukan penangangan pandemi dilakukan, hampir semua dana yang dimiliki Singapura diperuntukan pada masyarakatnya sangat besar. (arn)








