
DENPASAR – Gabungan Usaha Peternak Babi (GUPBI) meminta pemerintah lebih peka memperhatikan nasib peternak babi yang tengah didera kekhawatiran akan wabah virus African Swine Fever (ASF).
Ketua GUPBI Ketut Hari Suyasa menuturkan, populasi babi yang dikelola peternak saat ini diperkirakan sekitar 10 persen atau 9 ribu sampai 10 ribu dari 988 ribu pada dua tahun lalu. Saat hari raya Galungan dan Kuningan, tingkat konsumsi daging Babi masih stabil. ” Soal harga masih dikisaran Rp 90 ribu sampai Rp 100 ribu per kilogram. Memang cukup mahal, tapi stoknya masih aman,”kata Suyasa saat dihubungi pada Kamis 22 April 2021.
Kendati demikian, keberpihakan pemerintah untuk melindungi peternak Bali sangat dinantikan terutama di tengah wabah virus ASF. ” Belum lagi yang kita khawatirkan adalah masuknya daging babi dari luar Bali. Kalau terus terjadi (kiriman daging dari luar) maka potensi virus tidak pernah selesai,”ujarnya.
Satu sisi, GUPBI mengapresiasi langkah kepolisian yang beberapa kali menggagalkan masuknya daging babi dari luar. “Ini yang terus kita ributkan terkait perlindungan babi Bali. Wabah virus ini sangat berbahaya dan berapa peternak babi hancur saat ini,” ungkapnya.
“Sempat ada kabar pemerintah Provinsi Bali akan menyuplai 1.000 ekor bibit babi, tapi nyatanya sampai sekarang belum terealisasi. Kalau pun toh dibagikan di setiap kabupaten/kota, hanya dapat bagian 100-150 ekor per kabupaten. Jika dibandingkan dengan peternak babi di Bali jauh masih kurang sehingga perlu ada penambahan, “tegasnya.
Ia juga menyampaikan selama ini cara investasi peternak Bali habis-habisan.” Terus terang saja peternak kita tidak pernah berhitung soal investasi babi. Beli bibit di awal modalnya itu saja, sedangkan masalah pakannya dipikirkan berikutnya. Artinya, peternak kita bukan orientasi bisnis semata melainkan keterkaitan dengan budayanya juga,”katanya.
Suyasa berharap pemerintah segera bisa memperhatikan peternak babi Bali. ” Kita harapkan ada keseriusan pemerintah Bali melihat peternak Babi di Bali, yang hingga sekarang para peternak merana diterjang badai ASF sehingga banyak babi mati, disatu sisi kita sayangkan masih belum ada upaya yang jelas dari pihak pemerintah,” sesalnya. (sur)








