
DENPASAR – Wacana pariwisata Bali akan dibuka pada awal Juni mendatang, setidaknya telah membawa angin segar bagi Bali. Harapan tersebut sangat besar, ketika pariwisata Bali akan dibuka khususnya wisatawan internasional, dipastikan ekonomi akan menggeliat setelah satu tahun dua bulan telah terpuruk akibat pandemi Covid-19. Sayangnya, sampai saat ini belum ada kepastian secara resmi yang diterima Dinas Pariwisata Bali akan dibukanya kembali pariwisata Bali awal Juni mendatang.
Hal itu disampaikan Kadis Pariwisata Bali Putu Astawa saat dikonfirmasi Warta Bali, via telepon Selasa 20 April 2021. Menurutnya persiapan akan bukanya pariwisata pada awal Juni nanti akan dipersiapan oleh pemerintah pusat yang melibatkan BUMN, Kemenkumham dan Kementrian Luar Negeri.
“Kalau informasi sebelumnya sudah direncanakan Juni dan Juli dan itu akan dibuka apabila perkembangan kasus Covid-19 angkanya terus melandai dan sebaliknya kalau terus menaik, belum bisa dipastikan juga,” ujar Putu Astawa.
Mantan Kepala Bappeda Bali ini mengatakan, kalau dipastikan akan dibuka, satu bulan sebelumnya sudah ada diumumkan. Namun, perkembangan kasus Covid-19 juga belum menurun signifikan sesuai harapan insan pariwisata. Sementara mereka semua sudah jenuh dan sudah capek dengan situasi ekonomi yang benar-benar terpuruk. Apalagi selama ini pariwisata menjadi andalan Bali dalam memutar roda perekonomian masyarakatnya.
Putu Astawa juga mengatakan semua stakeholder di Bali, pemerintah, swasta dan semua element sudah berkerja maksimal, all out dalam memerangi Covid-19. Termasuk didunia pariwisata, insan pariwisata juga telah mempersiapkan segala sesuatunya ketika pariwisata akan dibuka Juni-Juli nanti. Mulai dari sertifikasi, persiapan protokol kesehatan (prokes) yang tetap memperhatikan SHCE.
Tak kalah pentingnya yang dipersiapkan Travel Corridor Arrangement (TCA) yang merupakan program membuka kembali pariwisata Indonesia dengan sejumlah negara. Menurut Putu Astawa, ketika pariwisata Indonesia akan dibuka kembali, akan dicoba membuka kedatangan wisatawan dari empat negara yakni Thiongkok, Singapura, Korea Selatan dan Uni Emirad Arab. Sementara wilayah Indonesia yang dipersiapkan yang disepakati dalam program TCA itu di antaranya Bali dan Lagoi-Bintan dan Batam.
Lantas, bagaimana negara lain? Hal inilah yang menjadi persoalan, kalaupun pariwisata Indonesia dibuka, sementara negara lain belum aman persoalan pandemi Covid-19 di negaranya, dipastikan juga warganya tidak akan bisa kemana-mana. Apalagi Indonesia sendiri larangan Kementrian Hukum dan Ham tentang larangan orang asing ke Indonesia sampai saat ini juga belum dicabut.
“Kalaupun dicabut, negara lain masih lockdown, warganya juga tidak bisa kemana-mana dan akan memilih mengikuti aturan negaranya demi aman dari Covid-19,” pungkasnya. (arn)








