
KLUNGKUNG-Pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung selama setahun, rawan berdampak terhadap ketahanan pangan di Kabupaten Klungkung. Gangguan yang paling serius adalah akses pangan warga terganggu akibat daya beli masyarakat menurun.
Banyak pekerja dirumahkan, bahkan ada yang kena pemutus hubungan kerja. Kondisi ini membuat perekonomian warga makin sulit. Belum lagi sejumlah komoditi pangan seperti cabai harganya mendadak melambung.
“Minimal untuk memenuhi unsur beragam, berisi dan berimbang masih sulit, karena kondisi ekonomi warga,” tandas Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Klungkung, I Dewa Ketut Sueta Negara, Rabu 17 Februari 2021.
Pejabat asal Desa Bumbungan, Kecamatan Banjarangkan ini melihat, untungnya warga Klungkung masih punya semangat kerja tinggi. Pemkab Klungkung terus gencar mensosialisasikan pembentukan kelompok wanita tani. Kelompok ini nantinya diberikan bantuan berupa dana untuk mendukung kegiatan penanaman berbagai tanaman pangan seperti sayur-sayuran, cabai, tomat, terong dan lainnya.
Saat ini sudah ada 69 kelompok wanita tani terbentuk di Kabupaten Klungkung. “Apalagi ada surat edaran bupati yang mengajak masyarakat memanfaatkan lahan pekarangan masing-masing menanam tanaman pangan, untuk memenuhi kebutuhan/konsumsi pangan di tingkat rumah tangga,” tandas Dewa Sueta Negara.
Kabid Konsumsi dan Keamanan Pangan Luh Ketut Eka Susanti menambahkan, selain edaran dari bupati, juga ada edaran dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali mewajibkan menanam cabai secara masal oleh kelompok wanita tani terutama yang bergerak pada tahap penumbuhan (baru memulai).
“Untuk denplot wajib menanam minimal 100 pohon cabai. Sedangkan masing-masing anggota kelompok minimal di rumahnya menanam 10 pohon cabai,” imbuh Eka Susanti seraya menyampaikan, upaya lain guna memenuhi kebutuhan pangan warga, menjaga keberlanjutan tanaman hydroponik pada warga miskin. (yan)








