
DENPASAR – Wajah muda dengan suara tembang guru-lagu macepat diiringi gambelan geguntangan bergema Kalangan Ratna Kanda, Taman Budaya Bali, di Denpasar, Minggu (21/6/2026) siang.
Pertunjukan tersebut adalah Wimbakara atau lomba Taman Penasar yang dipersembahkan Komunitas Sekaa Gading, Duta Kabupaten Klungkung dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII/2026.
Tak ada wajah tua, semua diisi oleh generasi muda. Lantunan tembang mereka berhasil membius para penonton. “Bali ternyata tidak kekurangan generasi penembang macepat,” Komentar salah seorang penonton, Ida Bagus Alit.
Menurutnya dari beberapa duta kabupaten yang mereka tonton, hampir semua pesertanya generasi muda. “Semuanya bagus punya ciri khas tersendiri. Yang terpenting mereka percaya diri membawakannya,” jelasnya.
Dalam pertunjukan tersebut, Sebagai koordinator I Komang Gede Suastika, Penata Shanti Ni Nengah Sukiartini, I Dewa Agung Made Eka Yogantara, dan Sang Made Joni, serta Penata Tabuh I Gede Wahyu Sanjaya dan Putu Lucky Chyka Adnyana.
Dalam PKB ini, Duta Bumi Serembotan mempersembahkan cerita menarik terkait motivasi dan pelajaran dalam jiwa. Mereka mempersembahkan cerita ‘Putra Cahyaning Kuluawandu Wandawa’.
Cerita ini mengisahkan sebuah kehidupan keluarga Bapa Gunung yang tinggal di pedesaan.
Bapa Gunung ini memiliki dua putra yang bernama I Gede Lecir dan adiknya I Made Getar. Keseharian mereka bekerja sebagai petani. Membajak sawah dan berkebun.
Mereka hidup rukun dan tidak kurang sandang pangan dan papan. Selain itu Bapa Gunung sangat nyastra, dan berkat kegigihannya, dia mampu menyekolahkan I Made Getar di perguruan tinggi ternama.
Berbeda dengan I Gede Lecir, dia lebih memilih hidup di desa, dan membantu ayahnya bekerja di sawah, sedangkan adiknya I Made Getar setelah lulus Sarjana Hukum, hidup di kota dan sukses menjadi PNS. Dan itupun tidak terlepas
dukungan orang tua dan kakaknya.
Setelah sukses I Made Getar menikah dengan gadis dari kota yang bernama Luh Ayu Dea.
Kesenjangan pun mulai terjadi setelah I Made Getar memiliki istri yang selalu angkuh dan semena-mena terhadap keluarga suaminya, hingga sangat jarang pulang ke desa.
Waktu pun berlalu, Bapa Gunung yang telah berusia senja akhirnya berpulang ke Sang Pencipta. Ketika itu pulanglah I Made Getar bersama istri tercintanya.
Gede Lecir dan Made Getar pun berdiskusi akan melakukan upacara pengabenan sang ayah.
Awalnya, sudah disepakati bahwa Made Getar akan membiayai upacara tersebut, namun setelah diketahui oleh istrinya, Getar berbalik. Pertengkaran dua bersaudara pun tidak dapat dihindari.
Di tengah pertengkaran kedua bersaudara ini, datanglah Jro Bandesa bersama Seka Santi untuk melerai.
Dalam memberikan pemahaman inilah digunakan tembang macepat terdiri dari Pupuh Sinom, Pupuh Maskumambang, Pupuh Ginada, Pupuh Ginanti, Pupuh Mijil, Pupuh Pangkur, Pupuh Durma, Pupuh Smaradhana, Pupuh Dadanggula, Pupuh Pucung diiringi gambelan geguntangan.
Setelah diberikan pemahaman oleh Jro Bendesa, barulah mereka sadar dan melaksanakan upacara pangabenan dengan rasa keikhlasan berbakti pada orang tua dalam menyucikan jiwa leluhurnya. (*)








