
KLUNGKUNG – Seni di Kabupaten Klungkung tidak pernah mati. Seniman di Bumi Serombotan ini terus beradaptasi dengan perkembangan zaman, teknologi dan perubahan selera masyarakat.
Parade gong kebyar anak-anak pada Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Kabupaten Klungkung yang diwakili Sekaa Gong Candra Nirwana Desa Pikat, Kecamatan Dawan menyuguhkan abuh Kreasi Pepalungan “Sruwadi Anyar”. Sruwadi Anyar merupakan sebuah karya Tabuh Kreasi Pepanggulan yang mentransformasi pola-pola bebonangan klasik Klungkung kedalam
bentuk baru. Istilah Sruwadi/Nyeruwadi menjadi dasar pijakan dalam menggarap setiap pola musikal dari karya ini. Sruwadi dalam bebonangan klasik Klungkung, bermakna sebuah tanda perubahan musikal yang biasanya dilakukan oleh istrumen kendang. Perubahan yang dimaksud seperti, perubahan tanjek pola, perubahan sub-divisi, layaknya manipulasi musikal yang menjadikan pola-pola sederhana menjadi terkesan berubah lebih kompleks.
Kemudian imbuhan kata Anyar digunakan sebagai penanda bahwa karya ini memang benar-benar baru. Sehingga secara filosofis Sruwadi Anyar dimaknai oleh komposer sebagai sebuah “Simbol perubahan terhadap sesuatu yang lama menjadi sesuatu yang baru”. Karya ini juga menjadi simbol sebuah kelahiran jiwa baru atas jiwa yang lama sebagaimana tema PKB tahun ini. Semua manusia berhak melakukan sebuah perubahan. Sruwadi Anyar (sebuah kelahiran kembali menjadi sosok jiwa yang baru).
Usai tabuh kreasi disusul dengan penampilan Tari Panyembrama. Tari Panyembrama ini berasal dari kata Panyembrama yang berarti penyambutan, di mana tarian tersebut terangkum pada gerak tari yang melukiskan pribadi atau para tamu untuk ungkapan syukur.
Menutup penampilan Kabupaten Klungkung menampilkan pementasan dolanan yang berjudul Mikat. Dolanan ini mempunyai makna kearifan lokal dimana kegiatan anak anak di Desa Pikat sampai saat ini masih berjalan tanpa banyak tergerus modernisasi seperti memikat burung, bermain, dan belajar menari.
Bupati Klungkung, I Made Satria mengapresiasi penampilan duta Kabupaten Klungkung itu.
“Klungkung sebagai bekas pusat Kerajaan Bali, seni budaya itu diwarisi dan sampai sekarang masih Lestari,” demikian Bupati Satria. (*)








