
DENPASAR – Ratusan pasang tangan mungil tampak lincah memainkan crayon warna-warni di atas lembaran kertas. Sesekali mereka menunduk serius, lalu mengangkat kepala untuk memperhatikan detail gambar yang sedang diwarnai. Suasana itu menjadi pemandangan menarik di teras Gedung Mahudara Mandara Giri Bhuana, Minggu (14/6/2026).
Di tengah hiruk-pikuk pengunjung Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, ratusan siswa sekolah dasar larut dalam imajinasi mereka. Mereka mengikuti Wimbakara Mewarnai, salah satu rangkaian kegiatan yang tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana menanamkan kecintaan terhadap seni dan budaya Bali sejak usia dini.
Dengan busana adat madya yang dikenakan rapi, para peserta tampak fokus menggoreskan warna demi warna. Tidak sedikit orang tua dan pengunjung yang berhenti sejenak untuk menyaksikan kreativitas anak-anak tersebut.
Lomba yang dibuka untuk siswa kelas I hingga III SD itu diikuti peserta dari berbagai kabupaten dan kota di Bali. Dari kuota maksimal 200 peserta yang disediakan panitia, sebanyak 107 anak hadir mengikuti perlombaan.
Koordinator Panitia Lomba Mewarnai PKB XLVIII Tahun 2026, Putu Yoga, mengatakan tema lomba diselaraskan dengan tema besar PKB tahun ini, yakni “Atma Kerthi: Jiwa Sidha Parisudha”.
“Gambar yang kami siapkan sudah disesuaikan dengan tema PKB tahun ini. Anak-anak tinggal mengembangkan kreativitas mereka melalui warna dan tambahan gambar yang relevan,” ujarnya.
Menariknya, panitia memberikan ruang seluas-luasnya bagi peserta untuk berimajinasi. Selain mewarnai gambar utama yang telah disediakan pada kertas ukuran A3, peserta juga diperbolehkan menambahkan elemen gambar lain yang mendukung tema.
Selama 180 menit perlombaan berlangsung, suasana kompetisi berjalan penuh semangat. Seluruh peserta diwajibkan menggunakan crayon sebagai media mewarnai agar memiliki kesempatan yang sama dalam menampilkan kemampuan terbaiknya.
Bagi panitia, lomba ini bukan sekadar mencari pemenang. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi upaya mengenalkan seni rupa sekaligus menanamkan nilai-nilai budaya Bali kepada generasi muda melalui cara yang menyenangkan.
Dalam penjurian, dewan juri menilai tiga aspek utama, yakni gagasan dan kreativitas, teknik mewarnai, serta kerapian dan kebersihan hasil karya. Dari hasil penilaian tersebut, Ketut Kayla Safira Maharani Eliani Tirta berhasil meraih Juara I dengan nilai 277.
Posisi Juara II diraih Aqila Salsabila dengan nilai 272, sedangkan Juara III diraih Ni Kadek Ruby Paramitha dengan nilai 269.
Sementara itu, gelar Harapan I diraih I Kadek Kenzu Jayanta Suta dengan nilai 261, Harapan II diraih I Dewa Gede Radika Pradnya dengan nilai 257, dan Harapan III diraih Anak Agung Sagung Aishaka Prabhandari Megadaswari dengan nilai 252.
Melalui goresan crayon di atas kertas, nilai-nilai budaya Bali tidak hanya dipamerkan kepada generasi muda, tetapi juga diwariskan secara langsung. Dari tangan-tangan mungil itulah harapan akan keberlanjutan budaya Bali mulai tumbuh dan berwarna. (*)








