
Kepala BBMKG Wilayah III, Cahyo Nugroho menjelaskan bahwa ancaman banjir rob kali ini dipicu oleh kondisi astronomi yang memengaruhi volume air laut. “Adanya fenomena Super New Moon atau fase bulan perigee dan bulan baru pada tanggal 15 Juni 2026 berpotensi meningkatkan ketinggian air laut maksimum,” ujar Cahyo Nugroho dalam keterangan tertulisnya.
Berdasarkan analisis hasil pantauan data water level serta prediksi pasang surut dari BMKG, wilayah-wilayah pesisir Bali yang dipetakan berpotensi terdampak meliputi Pesisir Selatan Kabupaten Jembrana, Pesisir Selatan Kabupaten Tabanan, Pesisir Kabupaten Badung, Pesisir Kota Denpasar, Pesisir Kabupaten Gianyar, dan Pesisir Selatan Kabupaten Klungkung.
Lebih lanjut, Cahyo Nugroho memaparkan bahwa waktu terjadinya banjir rob ini akan bervariasi, di mana hari dan jam pasang maksimum bisa berbeda-beda di setiap wilayah pesisir tersebut. Namun demikian, secara umum dapat menimbulkan dampak pada aktivitas masyarakat sekitar pelabuhan dan pesisir.
“Potensi banjir pesisir (rob) ini secara umum berdampak pada aktivitas masyarakat di sekitar pelabuhan dan pesisir, seperti aktivitas bongkar muat di pelabuhan, aktivitas di pemukiman pesisir, serta aktivitas tambak garam dan perikanan darat,” tuturnya.
Mengantisipasi dampak negatif dari fenomena pasang maksimum air laut ini, seluruh lapisan masyarakat yang tinggal atau beraktivitas di sekitar kawasan pesisir diminta untuk selalu waspada dan siaga. Masyarakat juga diminta untuk terus memantau pembaruan informasi cuaca maritim yang dikeluarkan secara berkala oleh BMKG Wilayah III. Baik itu melalui sambungan telepon pada nomor (0361) 751122, situs web bbmkg3.bmkg.go.id, laman maritim.bmkg.go.id, akun Instagram resmi @bmkgbali, serta melalui aplikasi seluler INFO BMKG yang bisa diunduh langsung di App Store maupun Play Store. (adi)
Warta BaliKamis, 11 Juni 2026 | 16:40 WITA








